Bantah Trump, Iran yang Berikan Izin 8 Kapal Tanker Lewat Selat Hormuz

Andi M. Arief
27 Maret 2026, 14:37
Kapal tanker di Selat Hormuz.
Vecteezy.com/Bjorn Franzen
Kapal tanker di Selat Hormuz.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Amerika Serikat Donald J Trump mengklaim negosiasi dengan Iran berjalan mulus lantaran telah ada delapan kapal tanker minyak mentah yang keluar dari Selat Hormuz. Namun pernyataan tersebut dibantah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari yang sama, Kamis (26/3).

Trump menyampaikan jumlah kapal tanker yang keluar dari Selat Hormuz akan bertambah menjadi 10 unit pada hari ini. Menurutnya, keluarnya kapal tersebut merupakan hadiah dari pemerintah Iran dalam rangka negosiasi penyelesaian perang di Asia Barat.

"Pemerintah Iran mengatakan untuk menunjukkan bahwa kami nyata, solid, dan ingin melakukan negosiasi, mereka akan mengirimkan delapan kapal minyak mentah besar. Itu dikatakan dua hari yang lalu," kata Trump dalam rapat kabinetnya yang dikutip Jumat (27/3).

Namun Araghchi menyampaikan pihaknya belum memulai negosiasi penyelesaian perang dengan Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan media milik pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting.

Araghchi menekankan Selat Hormuz tetap bisa dilalui kapal semua negara, kecuali untuk Amerika Serikat dan sekutunya. Karena itu, Araghchi mengonfirmasi telah ada kapal minyak mentah yang keluar dari Selat Hormuz beberapa hari terakhir yang berasal dari Cina, Rusia, Pakistan, irak, India, dan Bangladesh.

"Bagi beberapa negara ini yang kami pertimbangkan berkawa, pasukan kami telah memberikan jalan yang aman. Ini akan berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang," kata Araghchi.

Araghchi menilai Selat Hormuz merupakan zona perang. Karena itu, Selat Hormuz hanya ditutup untuk musuh Iran, dalam hal ini adalah Israel, Amerika Serikat, dan sekutunya.

Maka dari itu, Araghchi mengimbau bagi pemerintah negara lain untuk menjauhkan diri dari Amerika Serikat jika ingin kapal minyak mentahnya dapat melintasi Selat Hormuz.

"Kami memperingatkan semua negara, akan ada eskalasi tensi dan penciptaan masalah yang kompleks jika ada pasukan bersenjata masuk ke Selat Hormuz," ujarnya.

Malaysia dan Thailand Akui Lobi Iran, Bukan Amerika

Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyatakan kapal tanker negaranya berhasil mendapatkan akses melintasi Selat Hormuz setelah mendapat izin dari Iran.

"Kini kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta para pekerjanya agar mereka dapat meneruskan perjalanan pulang," ujar Anwar dalam pidato khusus yang disiarkan secara langsung di stasiun televisi nasional, Kamis (26/03), sebagaimana dilansir kantor berita Bernama.

Anwar menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz.

Selain Malaysia, kapal tanker minyak Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman. Izin ini diberikan setelah melakukan koordinasi diplomatik dengan Iran.

Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, mengatakan kapal tanker milik Bangchak Corporation itu melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/03) menyusul pembicaraan antara dirinya dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.

Sekitar 1.900 kapal komersial tertahan di kawasan Selat Hormuz, terutama di Teluk Persia, sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

Sejak awal serangan, Teheran secara efektif menutup jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang, sehingga lalu lintas maritim di selat itu terhenti.

Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian besar kapal yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.

Teheran menyatakan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi sepenuhnya aturan keselamatan dan keamanan.

Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, Rabu (25/3) mengatakan bahwa pihak Iran telah mengubah aturan di selat tersebut dan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang, seraya menegaskan bahwa entitas yang terkait dengan AS dan Israel tidak memiliki hak untuk melintas.

Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz.

Di antara kapal yang tertahan terdapat sekitar 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, dan 211 kapal tanker minyak mentah.

Sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut, kata perusahaan analisis Vortexa.

Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, 37 kapal angkut berat, serta 34 kapal tanker LPG atau kimia di kawasan tersebut, sementara sisanya terdiri dari berbagai jenis kapal lain seperti kapal Ro-Ro, kapal pengangkut bahan bakar, dan kapal angkut berat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...