AS Bantah 10 Poin Rencana Gencatan Senjata yang Dipublikasi Iran

Tia Dwitiani Komalasari
9 April 2026, 07:49
Gencatan Senjata dengan Iran
OpenAI
Gencatan Senjata dengan Iran
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa 10 poin rencana gencatan senjata yang diterbitkan oleh Iran bukanlah serangkaian syarat yang sama yang disetujui Gedung Putih untuk menghentikan sementara perang. Sepuluh syarat tersebut memang tidak diterbitkan secara resmi oleh pemerintah Iran, namun diplublikasikan oleh kantor berita negara tersebut.

"Dokumen yang dilaporkan oleh media bukanlah kerangka kerja yang berlaku," kata pejabat senior tersebut dengan syarat anonim pada Rabu (8/4), seperti dikutip dari SBS.com

Pejabat tersebut tidak memberikan komentar lebih lanjut, dengan mengatakan "Kami tidak akan bernegosiasi di depan umum sebagai bentuk penghormatan terhadap proses tersebut."

Pernyataan tersebut menambah kekhawatiran atas kerapuhan gencatan senjata yang diumumkan pada Selasa (7/4), beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk memenuhi tuntutan AS atau menghadapi apa yang disebutnya sebagai akhir dari "seluruh peradaban" mereka.

Trump mengatakan dalam deklarasinya tentang gencatan senjata dua minggu untuk negosiasi lebih lanjut bahwa "kami menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya bahwa itu adalah dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi".

Media pemerintah Iran kemudian menerbitkan rencana 10 poin yang secara khusus mencakup kelanjutan kendali Iran atas Selat Hormuz yang strategis, pengakhiran sanksi internasional terhadap negara tersebut, dan "penerimaan" pengayaan uranium. Poin-poin ini akan bertentangan dengan pernyataan publik Gedung Putih tentang apa yang diinginkannya agar Iran lakukan.

Kemudian pada Rabu (8/4), Trump menggunakan platform Truth Social-nya untuk menyerang mereka yang merilis laporan yang tidak benar tentang perjanjian atau surat yang menurutnya bukan bagian dari kesepakatan sebenarnya.

"Dalam banyak kasus, mereka adalah penipu, dukun palsu, dan LEBIH BURUK," katanya.

"Hanya ada satu kelompok 'POIN' yang bermakna yang dapat diterima oleh Amerika Serikat, dan kami akan membahasnya secara tertutup selama Negosiasi ini," kata Trump, tanpa memberikan detail. "Ini adalah POIN-POIN yang menjadi dasar kesepakatan gencatan senjata kami."

Kemudian pada hari itu, Wakil Presiden JD Vance mengatakan bahwa para negosiator Iran mengira gencatan senjata AS-Iran yang disepakati pada hari Selasa mencakup Lebanon, tetapi AS sebenarnya tidak menyetujuinya.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan dia percaya telah terjadi "kesalahpahaman yang sah" tentang apakah gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon. 

"Saya pikir ini berasal dari kesalahpahaman yang sah. Saya pikir Iran mengira bahwa gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon, dan ternyata tidak," kata Vance kepada wartawan di Budapest.

Posisi AS adalah bahwa gencatan senjata akan berfokus pada Iran dan sekutu AS, termasuk Israel dan negara-negara Arab Teluk, tambahnya. Posisi itu bertentangan dengan komentar Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, perantara utama dalam pembicaraan gencatan senjata AS-Iran, yang mengatakan bahwa gencatan senjata tersebut akan mencakup Lebanon.

Vance mengatakan Israel telah setuju untuk menunjukkan pengekangan di Lebanon, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

"Sejauh yang saya pahami, Israel... sebenarnya telah menawarkan, terus terang, untuk sedikit menahan diri di Lebanon, karena mereka ingin memastikan bahwa negosiasi kita berhasil," kata Vance.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...