Harga Minyak Tembus US$104 Usai Trump Sebut Gencatan Senjata Iran Kritis
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (12/5) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kondisi gencatan senjata dengan Iran berada dalam situasi kritis. Pernyataan itu memicu kekhawatiran pasar bahwa konflik di Timur Tengah akan berlangsung lebih lama dan kembali mengganggu pasokan energi global.
Melansir Reuters (12/5) kontrak berjangka Brent tercatat naik 30 sen atau 0,29% menjadi US$104,51 per barel pada pukul 00.02 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 31 sen atau 0,32% menjadi US$98,38 per barel. Keduanya sebelumnya juga melonjak hampir 2,8% pada perdagangan Senin.
Pasar menyoroti belum tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung. Presiden AS Donald Trump menyebut upaya gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi kritis “on life support” atau di ujung tanduk.
Trump mengungkapkan masih terdapat sejumlah perbedaan kesepakatan dalam negosiasi, mulai dari penghentian permusuhan di seluruh wilayah konflik, pencabutan blokade laut AS, pembukaan kembali ekspor minyak Iran, hingga tuntutan kompensasi kerusakan akibat perang.
Di sisi lain, Iran kembali menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Ketidakpastian di kawasan itu membuat pelaku pasar khawatir terhadap kelancaran distribusi energi global.
Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan harga minyak diperkirakan tetap bertahan di atas US$100 per barel selama negosiasi AS-Iran belum menemui titik terang dan arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz masih terganggu.
“Selama negosiasi AS-Iran masih belum konklusif dan aliran fisik melalui Selat Hormuz tetap terbatas, harga minyak kemungkinan akan bertahan di atas US$100,” ujar Waterer dikutip dari Reuters (12/5).
Ia menambahkan, tercapainya kesepakatan damai berpotensi memicu koreksi harga minyak sebesar US$8 hingga US$12 per barel. Sebaliknya, eskalasi konflik atau ancaman blokade baru dapat mendorong Brent kembali menuju level US$115 per barel.
Gangguan di Selat Hormuz juga mulai berdampak pada produksi negara-negara eksportir minyak. Survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade akibat sejumlah produsen memangkas ekspor.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser bahkan memperingatkan bahwa gangguan ekspor minyak melalui Selat Hormuz dapat menunda pemulihan stabilitas pasar energi global hingga 2027. Ia memperkirakan potensi kehilangan pasokan mencapai sekitar 100 juta barel minyak per pekan.
Di tengah kenaikan harga minyak, pemerintahan Trump mengumumkan rencana penyaluran pinjaman 53,3 juta barel minyak mentah dari cadangan strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) guna meredam gejolak pasar.
Data pelacakan kapal juga menunjukkan pengiriman minyak dari SPR AS tengah menuju Turki, yang menjadi pengiriman pertama menuju kawasan Mediterania.
Selain itu, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang dituduh membantu pengiriman minyak Iran ke Cina. Perusahaan yang dikenai sanksi berasal dari Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman.
Sementara itu, laporan Wall Street Journal menyebut Uni Emirat Arab melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan ke kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April. Namun, pemerintah UEA belum memberikan pengakuan resmi terkait laporan tersebut.
