Harga Minyak Naik Imbas Penolakan Iran Soal Kesepakatan Uranium
Harga minyak acuan dunia naik seiring dengan pernyataan Iran mengenai uranium dan Selat Hormuz yang mengurangi optimisme terkait kemajuan negosiasi dengan Amerika Serikat.
Harga minyak Brent naik 1,8% menjadi US$ 104,46 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate naik 1,3% menjadi US$ 97,65 per barel.
Iran menyatakan baru sebagian proposal terbaru AS yang menjembatani kesenjangan antara kedua pihak yang berseteru. Kendati demikian, keputusan Iran untuk tetap mempertahankan cadangan uranium Teheran serta perselisihan mengenai pungutan di Selat Hormuz membayangi prospek tercapainya kesepakatan.
Pernyataan yang saling bertentangan mengenai isu-isu utama membuat kondisi belum jelas apakah kedua pihak semakin dekat menuju kesepakatan. Sebelumnya sempat muncul ancaman eskalasi dalam beberapa hari terakhir yang mengguncang harga minyak.
Hal ini terjadi saat para trader sedang memperkirakan kapan arus energi melalui selat tersebut akan sepenuhnya kembali normal. Menurut Goldman Sachs Group Inc., perang dan pembatasan pasokan telah menyebabkan persediaan global minyak mentah dan produk turun dengan laju tercepat dalam sejarah.
“Perubahan arah berita yang terus-menerus jelas mengurangi keberanian mengambil risiko di pasar kertas maupun fisik. Saat harga turun pembeli masih enggan masuk di tengah potensi kembalinya arus pasokan melalui Selat Hormuz, sementara pelaku pasar fisik terus mengurangi stok dan memilih menunggu ketimbang memburu kargo dengan harga mahal,” kata trader energi senior di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin dikutip dari Bloomberg, Jumat (22/5).
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) siap melepas cadangan tambahan bila diperlukan, setelah pelepasan pertama pada Maret lalu.
Iran Tolak Kesepakatan Uranium
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan arahan bahwa uranium tingkat hampir-senjata nuklir milik negara itu, tidak boleh dikirim ke luar negeri. Hal ini mempertegas pendirian Teheran untuk tidak memenuhi salah satu tuntutan utama AS dalam perundingan perdamaian.
Para pejabat Israel sebelumnya mengatakan, Presiden AS Donald Trump telah meyakinkan Israel bahwa persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, yang dibutuhkan untuk membuat senjata atom, akan dikirim keluar dari Iran dan setiap kesepakatan perdamaian harus mencakup klausul tentang hal ini.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia tidak akan menganggap perang berakhir sampai uranium yang diperkaya dikeluarkan dari Iran, Teheran mengakhiri dukungannya untuk milisi proksi, dan kemampuan rudal balistiknya dihilangkan.
Namun, dua sumber senior Iran mengatakan, para pejabat tinggi percaya bahwa pengiriman material itu ke luar negeri akan membuat negara itu lebih rentan terhadap serangan di masa depan oleh Amerika Serikat dan Israel. Khamenei memiliki keputusan akhir dalam masalah-masalah kenegaraan yang paling penting.
"Arahan Pemimpin Tertinggi, dan konsensus di dalam pemerintahan, yakni persediaan uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara itu," kata salah satu dari dua sumber Iran, yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas masalah itu, dikutip dari Reuters, Jumat (22/5).
Perintah Ayatollah Mojtaba Khamenei dapat semakin membuat frustrasi Presiden AS Donald Trump dan mempersulit pembicaraan tentang mengakhiri perang AS-Israel di Iran.
“Presiden Trump telah menjelaskan garis merah Amerika Serikat dan hanya akan membuat kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika,” kata juru bicara Gedung Putih Olivia Wales berkomentar soal perintah pemimpin Iran itu.
