Delegasi Iran Tiba di Qatar di Tengah Negosiasi dengan AS, Ada Peluang Damai?

Agustiyanti
26 Mei 2026, 07:41
Menteri Luar Iran Seyed Abbas Araghchi, Iran
ANTARA/Xinhua/Shadati/aa
Menteri Luar Iran Seyed Abbas Araghchi termasuk dalam rombongan delegasi Iran yang telah tiba di Qatar untuk melakukan negosiasi dengan AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Delegasi Iran dikabarkan telah berada di Doha, Qatar, bersiap untuk melakukan kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di negaranya yang telah berlangsungs elama tiga bulan. 

Mengutip Reuters, sumber yang mengetahui informasi tersebut menyebut bahwa delegasi tersebut mencakup Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati. 

Namun di tengah rencana negosiasi tersebut, pasukan AS pada Senin (25/5)  melakukan serangan di Iran selatan terhadap target, termasuk kapal yang mencoba memasang ranjau dan lokasi peluncuran rudal. Langkah ini digambarkan AS sebagai tindakan defensif.

"Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," kata Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, bahwa AS akan berupaya agar setiap proses negosisi dapat berhasil, sebelum mempertimbangkan apakah akan berurusan dengan Iran melalui "cara lain".

"Ada hal yang cukup solid di atas meja dalam hal kemampuan mereka untuk membuka Selat Hormuz, membuka selat tersebut, memasuki negosiasi yang sangat nyata, signifikan, dan terbatas waktu tentang masalah nuklir, dan mudah-mudahan kami dapat mewujudkannya," kata Rubio.

Dalam sebuah unggahan panjang di Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan dengan baik, tetapi memperingatkan akan adanya serangan baru jika gagal. "Hanya akan ada Kesepakatan Besar untuk semua, atau tidak ada Kesepakatan sama sekali," kata dia.

Pejabat yang diberi pengarahan tentang kunjungan Iran ke Doha mengatakan kepada Reuters bahwa diskusi terutama berfokus pada Selat Hormuz dan persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran. Sedangkan gubernur bank sentral Iran hadir untuk membahas potensi pelepasan dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan akhir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei sebelumnya mengatakan bahwa masalah nuklir hanya akan dinegosiasikan jika kesepakatan kerangka kerja disepakati terlebih dahulu.

Trump mengatakan tujuan utamanya dalam perang ini adalah untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dengan uranium yang diperkaya tinggi. Teheran secara konsisten membantah memiliki rencana untuk melakukan itu.

Kedua pihak tetap berselisih mengenai beberapa isu lain, seperti perang Israel di Lebanon dengan milisi Hizbullah yang didukung Iran dan tuntutan Teheran untuk pencabutan sanksi dan pelepasan puluhan miliar dolar pendapatan minyak Iran yang dibekukan di bank-bank asing.

Saat upaya mencapai kesepakatan berlanjut pada Senin (25/5), Iran mengatakan telah menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak siluman "musuh" menggunakan sistem pertahanan udara baru. Namun, mereka tak menyebut asalnya. 

"Ini adalah tanda dari kami bahwa tidak ada lagi pesawat tak berawak siluman yang dapat menembus langit Teluk Persia," demikian pemberitaan di media Iran, Fars, mengutip pernyataan pejabat yang tidak disebutkan namanya.

Israel vs Lebanon dalam Kesepakatan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Senin bahwa Israel akan mengintensifkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, hal yang berpotensi mempersulit kesepakatan AS dan Iran. Militer Israel setelah itu juga menyatakan  bahwa mereka menyerang infrastruktur Hizbullah di Lembah Bekaa timur Lebanon dan beberapa daerah lainnya.

Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata pada pertengahan April, tetapi Israel terus melakukan serangan udara yang menurut mereka adalah tindakan membela diri terhadap Hizbullah.

Meski Israel bukan pihak yang berada dalam lingkar dalam negosiasi, Iran ingin penghentian serangan ke Lebanon masuk dalam kesepakatan damai dengan AS.

Perjanjian Abraham

Dalam unggahan Truth Social-nya, Trump juga menyerukan lebih banyak negara Arab dan Muslim untuk menandatangani Perjanjian Abraham, yang ditengahi selama masa jabatan pertamanya dan bertujuan untuk menormalisasi hubungan antara negara-negara tersebut dan Israel.

Dia mengatakan Arab Saudi dan Qatar harus segera menandatangani dan Pakistan, Mesir, Yordania, dan Turki harus mengikuti jejak mereka. Ia menyebut permintaannya sebagai hal yang wajib.

Kantor Netanyahu tidak segera menanggapi permintaan komentar

Sebuah sumber Pakistan yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan upaya untuk menggunakan diplomasi Iran sebagai dorongan yang lebih luas seputar perjanjian tersebut. 

Yang lain melihat saran tersebut sebagai upaya untuk membuat kesepakatan Iran lebih dapat diterima oleh para skeptis.

"Trump mencoba menjual kesepakatan Iran sebagai sekuel Perjanjian Abraham: baik untuk Israel, baik untuk kawasan, cukup keras untuk Washington," kata Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group.

Namun, Ali menilai, Trump menukar satu fantasi dengan fantasi lainnya. "Dari memaksa Iran untuk menyerah hingga berpura-pura bahwa kesepakatan yang rapuh dapat menjadi landasan tatanan Timur Tengah yang baru," kata dia. 

Poin-Poin Kesepakatan Iran

Baghaei mengatakan bahwa potensi kesepakatan Iran tidak memuat detail spesifik tentang pengelolaan Selat Hormuz, Jalur ini biasanya dilalui sekitar seperlima minyak dan gas cair dunia.

Ia menjelaskan, Iran tidak akan memungut biaya tol bagi kapal untuk melewati selat tersebut, tetapi akan ada biaya untuk layanan yang ditawarkan seperti navigasi dan langkah-langkah untuk melindungi lingkungan. Hal in, berdasarkan protokol yang akan disepakati dengan Oman, yang terletak di seberang perairan tersebut.

Mengutip sumber diplomatik Timur Tengah, surat kabar Nikkei Jepang melaporkan bahwa AS dan Iran sedang membahas rencana untuk membuka selat tersebut sekitar 30 hari setelah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan.

"Iran kemudian akan membersihkan ranjau dari selat tersebut selama jangka waktu 30 hari, setelah itu kapal dari semua negara dapat berlayar dengan bebas dan aman," demikian laporan Nikkei.

Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, hanya beberapa lusin kapal yang melewati Selat Hormuz. Padahal, ada 125 hingga 140 kapal setiap hari yang biasanya melewati jalur itu sebelum perang.

Televisi pemerintah Iran mengatakan pada hari Senin bahwa 32 kapal dan lima kapal tanker minyak melewati selat tersebut dalam 24 jam terakhir dengan izin dari pasukan angkatan laut Garda Revolusi Iran.

Konfrontasi tersebut telah menyebabkan lonjakan harga minyak dan mendorong kenaikan biaya bahan bakar, pupuk, dan makanan. Namun pada Senin (225/5), harga minyak turun lebih dari 4% ke level terendah dalam dua minggu di tengah optimisme bahwa kesepakatan mungkin akan segera tercapai.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...