SKK Migas Setuju, ConocoPhillips Lelang Pembongkaran Kilang Belanak

Arnold Sirait
14 Maret 2016, 13:18
SKK Migas
Arief Kamaludin|KATADATA
SKK Migas KATADATA|Arief Kamaludin

KATADATA -  Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyetujui langkah ConocoPhillips untuk menghentikan produksi elpiji di Kilang Belanak, Blok B South Natuna. Perusahaan minyak dan gas bumi asal Amerika Serikat itu akan merugi jika tetap memproduksi elpiji.

Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro mengatakan gas yang berasal dari Blok B South Natuna ini lebih baik diekspor ke luar negeri seperti Malaysia daripada harus diolah menjadi elpiji di dalam negeri. Sebab, harga ekspor lebih ekonomis. Apalagi sudah ada fasilitas seperti pipa untuk menyalurkan gas ke Malaysia, sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya operasi. “Dari segi keekonomian jadi lebih menguntungkan dari pada mengoperasikan elpiji. Kalau beli di pasar jauh lebih murah,” kata Elan kepada Katadata, akhir pekan lalu. (Baca: Akhir Tahun, ConocoPhillips Setop Produksi Elpiji).

Sebenarnya, SKK Migas menyetujui permohonan ConocoPhillips untuk menghentikan produksi elpiji di Kilang Belanak akhir tahun lalu. ConocoPhilips saat ini masih melakukan lelang untuk membongkar fasilitas pengolahan yang berada di kapal atau Floating Production Storage and Offloading (FPSO). Penawaran lelang ini sudah dibuka sejak pertengahan November 2015. Lingkup pekerjaan dari proses tender tersebut meliputi kegiatan melepaskan, memobilisasi, dan menonaktifkan fasilitas pengolahan kilang elpiji lapangan Belanak.

Setelah pemenang lelang ditentukan maka proses pembongkaran bisa dilakukan, dan kapal untuk fasilitas kilang elpiji tersebut akan dikembalikan, mengingat ConocoPhillips menyewa kapal tersebut. Sayangnya, Elan tidak mau menyebut mengenai siapa pemilik kapal itu. Yang jelas kapal tersebut mulai dioperasikan sejak pertengahan 2006.

Mengenai niat PT Pertamina mengambilalih kilang tersebut, Elan menilai tidak akan banyak memberi manfaat. Menurutnya, operasional di South Natuna membutuhkan biaya besar. Apalagi kondisi saat ini gelombang di Laut Natuna sangat tinggi bisa mencapai tujuh meter, sehingga memiliki risiko yang tinggi. “Mending beli elpiji saja, harga juga lagi murah. Harga elpiji nanti mengikuti harga minyak, kalau harga minyak turun elpiji juga turun,” ujar dia. (Baca: Pertamina Mau Kuasai Kilang Elpiji Belanak dari ConocoPhillips).

Meskipun Pertamina mengambilalih kilang tersebut, Elan mengatakan hal itu tidak akan berpengaruh pada impor bahan bakar gas tersebut. Pertamina tetap mengimpor elpiji karena produksi nasional belum mencukupi kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, produksi elpiji Indonesia masih sepertiga dari konsumsi masyarakat.

PT Pertamina memang berminat mengambil alih kilang elpiji Lapangan Belanak, Blok B South Natuna dari ConocoPhillips. Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang sempat mengatakan timnya masih mengkaji kemungkinan mengambil alih kilang tersebut. Meski ConocoPhillips menganggap pengoperasiannya tidak lagi ekonomis, bisa saja kilang itu ketika dioperasikan Pertamina masih efisien. Apalagi, jika ada potensi penghematan, Pertamina tidak akan berpikir lama untuk mengambilalihnya. (Baca: ConocoPhillips Setop Produksi, Pertamina Tambah Impor Elpiji).

Penghentian pengoperasian Kilang Belanak memang membuat khawatir Pertamina. Ahmad mengatakan, pasokan elpiji ke Pertamina bakal terganggu. Apalagi, Kilang Belanak selama ini memproduksi elpiji 10 ribu metrik ton. Kalau itu berhenti suplai elpiji Pertamina akan berkurang di dalam negeri. Secara otomatis impor elpiji pun akan melonjak. Ujung-ujungnya, ketersediaan stok Elpiji yang bisa didistribusikan kepada masyarakat bakal terganggu.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...