Indonesia Bisa Pengaruhi Harga Minyak di Forum OPEC

Arnold Sirait
8 Desember 2015, 20:58
tambang minyak lepas pantai
KATADATA
tambang minyak lepas pantai

KATADATA - Harga minyak dunia diprediksi masih sulit naik. Gubernur Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) Indonesia Widhyawan Prawiraatmadja memperkirakan harga emas hitam itu susah menembus US$ 60 per barel pada 2016.

Penyebabnya, negara-negara yang tergabung dalam organinasi pengekspor minyak itu tidak mau menurunkan produksinya. Akibatnya, produksi minyak dunia tahun depan akan berlebih hingga 2,5 juta barel per hari. (Baca: Terendah Sejak 2009, Harga Minyak Tahun Depan Bisa US$ 20).

Bila ramalan tersebut benar terjadi, harapan untuk mengerem laju produksi akan ditumpukkan kepada negara-negara non-OPEC. “Atau, menurut OPEC, yang harus meng-cut produksi adalah produsen dengan biaya produksi tinggi,” kata Widhyawan di Jakarta, 8 Desember 2015. Sebagai contoh adalah Amerika Serikat dengan minyak serpihnya atau shale oil yang biayanya mencapai US$ 70 per barel.

Negara Paman Sam itu, kata Widhyawan, bisa menggenjot produksi shale oil karena saat itu harga minyak dunia US$ 140 per barel. Sementara saat ini harga minyak berkisar US$ 40 per barel, bahkan hari ini sempat menembus US$ 37 per barel, level terendah sejak 2009. Hal inilah yang menyebabkan Amerika mulai menurunkan aktivitas pengeboran minyak.

Namun ada juga negara yang tidak masuk dalam OPEC tapi tetap menggenjot produksi, seperti yang dilakukan Rusia. Dia menduga hal itu dilakukan untuk membiayai perangnya. (Baca : Serangan Rusia ke Suriah, Dongkrak Harga Minyak Indonesia).

Beragam faktor tersebut membuat harga minyak dunia sulit naik. Belum lagi situasi geopolitik di Timur Tengah yang sedang panas tidak mengerek harga minyak. “Buktinya, ada perang di Yaman tapi tidak ada kenaikan harga,” ujar Widhyawan.

Sementara itu, bergabungnya Indonesia ke OPEC diharapkan mampu memperjuangkan harga minyak tetap stabil. Pasalnya, Indonesia dapat membatalkan keputusan penambahan produksi dengan memberikan keberatan.

Kondisi harga minyak saat ini yang sudah di bawah $40 per barel perlu dicermati oleh industri hulu migas nasional. Menurut Widhyawan, dengan harga tersebut maka produksi Indonesia bisa turun 100 sampai 200 ribu barel per hari.

Namun dengan pengalaman yang pernah dialami Indonesia, dia yakin industri migas di Indonesia dapat melewati situasi tersebut. Sumur-sumur yang berhenti produksi karena biaya terlalu tinggi akan kembali beroperasi. Biaya rata-rata produksi minyak di Indonesia sebesar US$ 28-30 per barel. (Baca : Lima Kontraktor Melepas Saham di Banyak Blok Migas )

Sementara itu, Tenaga Ahli Tim Harga Minyak Mentah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Maizar Rahman mengatakan dalam kondisi seperti ini penerimaan negara akan tergerus. Namun di lain pihak subsidi juga akan berkurang. “Jangan hentikan kegiatan eksplorasi, carilah sumber–sumber baru migas, karena ini penting bagi ketahanan energi masa depan,” ujar dia kepada Katadata, Selasa, 8 Desember 2015.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Manal Musytaqo

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...