KrisEnergy Mulai Pengeboran Perdana Blok Sakti
KATADATA - Hari ini untuk pertama kalinya KrisEnergy Ltd memulai pengeboran eksplorasi Blok Sakti di lepas pantai Jawa Tengah. Pengeboran perdana ini dilakukan di sumur Mustika-1 pada kedalaman hampir satu kilometer di bawah laut.
Direktur Eksplorasi dan Produksi KrisEnergy LTd. Chris Gibson-Robinson mengatakan lokasi sumur didasarkan pada interpretasi data seismik dua dimensi sejauh 1.202 km persegi dan tiga dimensi seluas 401 km persegi. Data tersebut ini diperoleh pada awal tahun 2015.
Pengeboran sumur Mustika-1 dilakukan oleh anak perusahaan KrisEnergy, yakni PT Java Star Rig. Hasilnya akan diketahui dalam 20 hari depan. Rencananya pengeboran akan dilakukan dengan kedalaman hampir dari 3.100 kaki atau 945 meter. Kedalaman ini setara dengan 3.000 kaki dari kedalaman vertikal.
Sekadar informasi, KrisEnergy menjadi operator di Blok Sakti sejak Februari 2014, dari hasil lelang yang dilakukan pemerintah pada 2012. KrisEnergy memegang kepemilikan mayoritas Blok Sktisebesar 95 persen. Sisanya dipegang oleh Golden Heaven Jaya Ltd.
Setelah resmi mendapatkan blok migas tersebut perusahaan asal Singapura ini langsung melakukan eksplorasi. Awalnya perusahaan berencana melakukan pengeboran perdana pada awal bulan lalu, tapi baru terealisasi saat ini. (Baca: Cadangan Minyak Makin Menipis, Gas Meningkat)
Keputusan melakukan pengeboran sumur ini dilakukan saat perusahaan sedang menyelesaikan tahap akhir pengembangan Blok Lengo yang lokasinya berdekatan. “Jika (pengeborannya) sukses, gas yang dihasilkan akan dialirkan melalui fasilitas produksi di sana (Lengo),” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Katadata, Senin (7/12).
Saat ini KrisEnergy juga sudah mengajukan rencana pengembangan lapangan atau plan of development (PoD) Blok Bulu untuk Lapangan Lengo. Rencananya fasilitas produksi yang akan dibangun di lapangan tersebut akan menjadi agregasi gas perusahaan untuk pasar Jawa Timur.
Pada Lapangan Lengo, KrisEnergy akan membangun unmanned wellhead platform alias anjungan sumur migas yang tak dihuni. Kemudian ditambah dengan empat sampai lima sumur pengembangan. Perusahaan juga akan membangun jaringan pipa sepanjang 65 kilometer (km) untuk mengekspor gas. Investasinya diperkirakan sekitar US$ 200 juta.
Harapannya pemerintah segera menyetujui PoD tersebut, sehingga gas dari lapangan tersebut bisa mulai mengalir pada paruh kedua tahun depan. Apalagi saat ini KrisEnergy sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan calon pembeli gas dari lapangan Lengo.
Krisenergy telah menyelesaikan desain awal atau Front-End Engineering Design (FEED) untuk pengembangan Blok Lengo pada kuartal III-2015. FEED ini akan menentukan anjungan sumur yang akan digunakan, pipa ekspor, dan fasilitas penerimaan di darat.
Saat ini perusahaan masih melakukan negosiasi penjualan Gas dengan beberapa pembeli gas. Sejalan dengan kegiatan tersebut, perusahaan juga tengah menyiapkan tender untuk rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC) beserta instalasinya. (Baca: Awal 2016, Cadangan Migas Nasional Bertambah 580 Juta Barel)
