Menkes: Potensi Bisnis Kesehatan Indonesia Rp1.100 T dalam Lima Tahun

Amelia Yesidora
2 Juni 2022, 21:06
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/5/2022). Rapat kerja itu membahas penjelasan tentang platform Indonesia Health Service (IHS) yang terintegrasi dengan BPJS K
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/5/2022).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong industri farmasi Tanah Air untuk mengembangkan obat-obatan dengan basis plasma dan bioteknologi. Pasalnya potensi bisnis kesehatan, terutama dari penjualan obat-obatan, sangat besar.

Ia mengatakan bahwa pengeluaran per kapita (expenditure per capita) per tahun Indonesia untuk bidang kesehatan sebesar US$ 112 atau setara Rp 1.568.000. Angka ini relatif rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yang rakyatnya mau merogoh kocek sebesar US$ 432 atau setara Rp 6.048.000 untuk kesehatan per tahunnya.

Advertisement

“Saya nggak tahu datanya di-spend (belanjakan) ke obat berapa banyak, feeling saya 40%-50% untuk obat, dari spending kesehatan per kapita,” katanya dalam acara Kick Off Fasilitasi Change Source Penggunaan Bahan Baku Obat Dalam Negeri, Kamis (2/6).

Dalam lima tahun ke depan, ia optimis angka ini akan naik, minimal sampai ke angka pengeluaran per kapita Malaysia tahun ini. Dengan peningkatan tersebut dan dikali jumlah penduduk Indonesia sekira 270 juta jiwa, ada sekitar US$ 81 miliar atau lebih dari Rp 1.170 triliun potensi pendapatan yang bisa dipanen industri kesehatan.

“Kalau (porsi untuk) obatnya 40% saja, US$ 32 miliar, berapa tuh, Rp 400-500 triliun. Saya tidak pernah lihat ada industri farmasi kita ratusan triliun itu belum lihat, jadi harusnya itu big opportunity for you,” jelasnya.

Adapun hal ini ia sampaikan berkenaan dengan penetapan change source bahan baku obat (BBO) dari impor ke lokal. Dalam kesempatan yang sama, ia juga meresmikan pabrik obat merah atau povidone iodine milik PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia di Cikarang.

Ajakan ini muncul karena Indonesia sempat mengimpor obat bernama Gammaraas dari Tiongkok dalam jumlah banyak kala pandemi Covid-19 melanda. Ia menjelaskan bahwa obat ini termasuk dalam kategori IVig (Intravenous Immunoglobulin Therapy) dan IVig berbasis dari plasma darah manusia.

“Orang Indonesia itu 270 juta (jiwa), harusnya kita jadi produsen plasma darah terbesar ke-4 di dunia. Masa produk IVig yang banyak dipakai itu impor,” kata Budi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement