Luhut Nilai Penerapan Digitalisasi Mampu Menekan Kejahatan Korupsi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan, digitalisasi di beberapa kegiatan pemerintah telah memberikan dampak positif. Salah satunya adalah penurunan potensi korupsi di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Bindsar Pandjaitan mengatakan, hal tersebut dilakukan dengan digitalisasi katalog pengadaan pemerintah. Selain itu, beberapa industri pengolahan bahan baku juga telah mendigitalisasi sebagian kegiatan produksinya.
"Dengan digitalisasi juga mengurangi korupsi, semua hal menuju digitalisasi. Minyak sawit dan batubara digitalisasi, e-katalog melalui digitalisasi dengan blockchain dan membuat negara ini efisien," kata Luhut dalam BloombergNEF Summit 2022, Sabtu (12/11).
Luhut mengatakan tahapan selanjutnya dalam peningkatan efisiensi e-katalog adalah peningkatan angka tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN. Luhut mengatakan rata-rata nilai program pengadaan barang dan jasa pemerintah dan perusahaan plat merah mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.000 triliun per tahun.
Luhut mencatat 90% atau sekitar Rp 1.800 triliun dari program pengadaan pemerintah dan BUMN adalah barang. Namun demikian, Luhut menilai TKDN pengadaan barang oleh pemerintah belum maksimum.
Luhut menghitung setiap Rp 400 triliun dalam pengadaan barang pemerintah dilakukan, sebanyak 2 juta tenaga kerja berkontribusi dalam pengadaan barang tersebut. Selain itu, pengadan tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional bertambah 1,7-2,5%.
Di sisi lain, Luhut memproyeksikan ekonomi digital di Indonesia mencapai Rp 4.500 triliun pada 2030. Porsi ekonomi digital saat ini sekitar Rp 1.000 triliun yang terbesar di Asia Tenggara dan berpotensi masuk kelas dunia.
Luhut menilai Indonesia diperkirakan menjadi pemain terbesar di Asia Tenggara dalam ekonomi digital. Sebesar 40% digitalisasi di Asia Tenggara diwakili oleh Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi digital populer di Asia Tenggara.
Proses digitalisasi membuat produktivitas nasional meningkat hingga US$ 120 miliar. Ekosistem digital Indonesia sudah memasuki semua sektor. Akan tetapi, Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital untuk berkontribusi pada ekonomi digital 2030.
Lebih dari 50% CEO di Asia Pasifik menghadapi masalah dalam merekrut talenta digital dengan keterampilan yang dibutuhkan. Asia Pasifik diproyeksikan akan mengalami defisit sekitar 47 juta talenta digital pada tahun 2030.
Luhut mengatakan bahwa dirinya punya tanggung jawab untuk mentoring generasi muda Indonesia. Ia berjanji bahwa generasi muda Indonesia akan mengedepankan produk kelas dunia, dan negeri ini bukan negeri ecek-ecek.
Luhut menekankan jika masyarakat bangga buatan dalam negeri, maka Indonesia akan menjadi negara hebat. Sehingga, jangan menganggap Indonesia kelas dua, “we are first class, nobody can beat us,” ujarnya.
