DPR Kritik Sederet Masalah Kereta Cepat Whoosh, padahal Biaya Bengkak
Dewan Perwakilan Rakyat mengkritik performa Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh yang telah beroperasi secara komersial selama satu bulan. Kereta Cepat Whoosh sempat mengalami sejumlah insiden.
Anggota Komisi V DPR Mulyadi mengkritik waktu yang harus tempuh dari Jakarta ke Bandung menggunakan kereta cepat. Menurut dia, kereta cepat Whoosh untuk Jakarta-Bandung memang hanya mencapai 46 menit. Namun, akses menuju Stasiun Whoosh membuat perjalanan Jakarta-Bandung menjadi lama, khususnya karena harus menggunakan kereta feeder.
"Akibat akses menuju kereta cepat yang anomali dan tidak bisa diperkirakan waktu keberangkatannya, saya pernah tertinggal," kata Mulyadi dalam rapat kerja bersama Menteri Perhubungan, Selasa (7/11).
Bukan hanya masalah waktu tempuh, kritik juga muncul terkait konstruksi stasiun. Wakil Ketua Komisi V Roberth Rouw mengungkit masalah atap bocor yang sempat terjadi di Stasiun Whoosh Halim. Ia menyoroti konstruksi stasiun yang tidak sejalan dengan pembengkakan anggaran proyek kereta cepat.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebelumnya telah mengkonfirmasi kejadian atap bocor di Stasiun Whoosh Halim. KCIC telah berkoordinasi dengan kontraktor pembangunan Stasiun Kereta Cepat Halim untuk melakukan perbaikan di stasiun tersebut.
"Ini belum masuk ke musim hujan, tapi plafonnya jebol dan air turun dari atapnya seperti air bah. Pembengkakan anggarannya begitu besar tapi kualitas pembangunan seperti itu," ujar Roberth.
Ia pun mengajukan ada pengawasan spesial terhadap pengoperasian Whoosh dalam waktu dekat. Roberth pun menyebutkan pertimbangan usulan tersebut, yakni karena Komisi V merupakan pihak yang menyetujui penambahan anggaran negara saat biaya konstruksi proyek tersebut membengkak.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengakui kereta feeder dari sebagian besar stasiun Whoosh tidak optimal. Menurutnya, satu-satunya stasiun Whoosh yang beroperasi baik ada di Stasiun Whoosh Halim.
Budi menilai transportasi umum feeder terburuk ditemukan di Stasiun Whoosh Karawang. Sementara itu, Budi berpendapat Stasiun Whoosh Tegalluar belum beroperasi secara maksimal.
"Kami akan maksimalkan dalam pengoperasian transportasi feeder Whoosh," ujarnya.
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara Kartika Wirjoatmodjo sebelumnya menjelaskan kondisi atap Stasiun Cawang LRT Jabodebek, Stasiun Halim LRT Jabodebek, dan Stasiun Halim Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang bocor.
Kartika atau yang akrab disapa Tiko beralasan jika atap stasiun kereta yang baru diresmikan tersebut belum sempat dilaksanakan uji coba ketika hujan deras. Menurut Tiko, insiden ini merupakan hal yang biasa pada proyek dalam implementasinya. Apalagi, peresmian stasiun-stasiun tersebut dilaksanakan sebelum musim hujan.
"Ini kan baru hujan kemarin. Tentunya ini kita jadikan masukan, kita perbaiki ke depan, karena kan kemarin belum sempat ada testing pada saat hujan deras," kata Tiko saat ditemui di Jakarta, Senin (6/11).