Hitung-hitungan Tarif Impor Amerika Diduga Pakai ChatGPT
Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan tarif impor baru pada Rabu (2/4). Hitung-hitungan besarannya diduga menggunakan ChatGPT.
Amerika menerapkan tarif impor minimum 10% untuk semua produk dari luar negeri, termasuk dari wilayah tidak berpenghuni seperti Kepulauan Heard dan McDonald, bagian terluar Australia di Samudra Hindia sub-Antartika. Aturan ini berlaku mulai besok (5/4).
Selain itu, ratusan negara dikenakan tarif resiprokal atau timbal balik mulai 9 April, termasuk:
- Kamboja: 49%
- Vietnam: 46%
- Sri Lanka: 44%
- Bangladesh: 37%
- Cina: 36%
- Thailand: 36%
- Taiwan: 32%
- Indonesia: 32%
- Pakistan:29%
- India: 26%
- Korea Selatan: 25 %
- Jepang: 24 %
- Malaysia: 24%
- Brunei Darussalam: 24%
- Filipina:17%
LIBERATION DAY RECIPROCAL TARIFFS ???????? pic.twitter.com/ODckbUWKvO— The White House (@WhiteHouse) April 2, 2025
Penulis di The Newyorker James Surowiecki mencoba untuk menghitung ulang penetapan tarif impor yang diumumkan oleh Trump. Caranya, memasukkan angka defisit perdagangan Amerika dengan suatu negara, lalu dibagi total ekspor
Hasilnya dibagi menjadi dua. “Anda akan mendapatkan tarif resiprokal yang didiskon, yang siap pakai,” kata James Surowiecki melalui akun Twitter atau X, Kamis (3/4).
Just figured out where these fake tariff rates come from. They didn't actually calculate tariff rates + non-tariff barriers, as they say they did. Instead, for every country, they just took our trade deficit with that country and divided it by the country's exports to us.
So we… https://t.co/PBjF8xmcuv— James Surowiecki (@JamesSurowiecki) April 2, 2025
Gedung Putih membantah hal itu dan membagikan cara mereka menghitung tarif resiprokal sebagai berikut:
- ε < 0: Menunjukkan elastisitas impor terhadap harga impor. Elastisitas negatif, berarti jika harga naik karena tarif, maka impor akan turun.
- φ > 0: Menunjukkan besarnya dampak atau passthrough dari tarif terhadap harga impor. Semakin besar φ, semakin besar tarif memengaruhi harga impor.
- mᵢ > 0: Menunjukkan total impor dari negara i ke Amerika
- xᵢ > 0: Menunjukkan total ekspor dari Amerika ke negara i
“Dengan asumsi bahwa efek nilai tukar dan keseimbangan umum yang saling mengimbangi cukup kecil untuk diabaikan, tarif timbal balik yang menghasilkan neraca perdagangan bilateral nol memenuhi rumus tersebut,” demikian dikutip dari laman USTR.
Tarif Impor Amerika Dinilai Tidak Masuk Akal
Ekonom Senior di Tax Foundation Alan Cole menilai perhitungan tarif resiprokal Amerika tidak terkait kebijakan. Pertama, tarif impor dari masing-masing mitra dagang sepenuhnya merupakan fungsi dari agregat perdagangan, khususnya defisit dibagi dengan impor Amerika, dengan minimal 10%.
“Tidak ada faktor yang dibahas oleh pemerintah dalam dokumen seperti tarif, pajak layanan digital, pajak pertambahan nilai, atau kebijakan moneter yang berperan,” kata dia dikutip dari laman Tax Foundation.
Singapura misalnya, negara yang relatif berorientasi pada perdagangan bebas. Sementara itu, Brasil lebih banyak menggunakan tarif dan manipulasi perdagangan lainnya.
Akan tetapi, keduanya dikenakan tarif 10% karena neraca perdagangan barang mereka dengan Amerika.
Sebaliknya, Vietnam yang mengekspor banyak barang ke Amerika, tetapi juga berupaya membuat kebijakannya sesuai dengan AS, dikenakan tarif yang besar.
“Angka minimum 10% sepenuhnya bersifat acak dan tidak memiliki turunan. Pengenaan angka yang lebih tinggi dijelaskan dalam dokumen kebijakan ekonomi singkat, yang dipublikasikan di situs USTR. Dokumen ini membuat asumsi yang dipertanyakan, tetapi pada akhirnya menghasilkan ekspresi tentang bagaimana tarif memengaruhi neraca perdagangan bilateral,” kata dia.
Menurut Alan Cole, dokumen USTR tampak menyiratkan bahwa perdagangan bilateral antarnegara akan seimbang kecuali ada kombinasi faktor tarif dan nontarif yang mencegah perdagangan menjadi seimbang.
“Ini bisa jadi benar, dalam arti tertentu, setiap faktor di alam semesta adalah faktor tarif atau nontarif, tetapi tidak terlalu berguna kecuali seseorang percaya bahwa perdagangan bilateral harus seimbang,” katanya.
Menurut dia, neraca perdagangan bilateral bukanlah bukti adanya penyimpangan. Bahkan ketika neraca tersebut sepenuhnya mencerminkan substansi ekonomi, neraca tidak mesti seimbang.
Pertimbangkan contoh hipotetis dengan tiga negara dan tiga barang:
- Negara tropis menghasilkan surplus gula, kayu yang cukup, dan sedikit gandum
- Daerah pertanian menghasilkan surplus gandum, gula yang cukup, dan sedikit kayu
- Daerah hutan menghasilkan surplus kayu, gandum yang cukup, dan sedikit gula
Oleh karena itu, ia menjelaskan bahwa setiap negara akan memiliki ketidakseimbangan bilateral yang kuat dengan negara lain.
Ia mencontohkan Inggris yang memiliki iklim mirip dengan banyak wilayah AS, sehingga Amerika tidak perlu mengimpor banyak barang dari negara ini.
“Sebaliknya, Indonesia adalah negara kepulauan tropis yang besar, iklim yang cocok untuk menanam karet, kelapa, minyak kelapa, minyak kelapa sawit, kopi, rempah-rempah, dan barang-barang lain yang hanya dapat diperoleh dari beberapa lokasi di Amerika,” ujar Alan Cole.
“Apakah impor AS yang tinggi dari Indonesia merupakan indikator ketidakseimbangan perdagangan yang dibuat-buat, atau konsekuensi alami dari keuntungan AS yang lebih besar dari impor barang Indonesia?” Alan Cole menambahkan.

