Purbaya Belum Akan Revisi APBN dengan Lonjakan Harga Minyak Saat Ini

Muhamad Fajar Riyandanu
10 Maret 2026, 17:17
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemerintah masih mampu menanggung subsidi bahan bakar minyak (BBM) meskipun harga minyak dunia naik akibat Perang Iran saat ini.

Ia menjelaskan kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa hari ini belum berdampak signifikan terhadap wacana perhitungan ulang postur Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Purbaya menyebut situasi APBN saat ini masih mampu untuk menyesuaikan kenaikan sementara harga minyak tanpa perlu mengubah kebijakan subsidi energi. “Rata-rata setahun asumsi APBN US$ 70 per barel. Ini kan baru beberapa hari saja, jadi belum cukup untuk mengubah anggaran kita,” kata Purbaya di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (10/3).

Purbaya mengatakan dirinya masih memantau perkembangan harga minyak global dan kondisi ekonomi domestik dalam satu bulan ke depan sebelum melakukan kemungkinan evaluasi portur APBN nantinya.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 2020-2025 itu menyebut pergerakan reli harga minyak dunia cenderung fluktuatif. Situasi itu membuat pemerintah perlu mengamati tren kenaikan atau penurunan harga minyak dalam periode tertentu sebelum memutuskan perubahan kebijakan anggaran.

“Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah (APBN) lagi, repot kan. Jadi menetapkan respon APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons pergerakan saham,” ujar Purbaya.

Purbaya pada Selasa (3/3) sebelumnya mengatakan anggaran negara saat ini masih cukup untuk menahan dampak kenaikan harga minyak hingga level US$ 92 per barel nantinya. Ia menjelaskan, pemerintah dapat melakukan penyesuaian dan pengaturan anggaran agar defisit tetap terkendali nantinya. Hal ini terkait langkah antisipasi jika terjadi gangguan impor akibat konflik di Selat Hormuz.

Berdasarkan data perdagangan berkala Bloomberg pada Selasa (10/3) sore, minyak mentah Brent melonjak 8,57% berada di level US$ 90,48 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 8,81% ke harga US$ 86,42 per barel.

Nominal harga dua jenis minyak acuan dunia itu sempat berada di atas US$ 100 per barel. Harga minyak mentah WTI pada Ahad (8/3), melonjak 18,98% menjadi US$ 108,15 per barel. Sementara, Brent naik 16,19% menjadi US$ 107,70 per barel.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...