Mensesneg Sebut RI Ingin Kembangkan Teknologi Nuklir untuk PLTN hingga Medis
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah mengarahkan pengembangan teknologi nuklir untuk mendukung sektor energi, pertahanan, dan medis. Di bidang energi, pemerintah mengkaji peluang pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
“Kalau berkenaan dengan masalah nuklir lebih fokus ke masalah untuk selain penelitian untuk kepentingan energi dan kesehatan,” kata Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Jumat (7/8).
Selain sektor energi, pemerintah juga membuka peluang pemanfaatan teknologi nuklir di bidang pertahanan. Prasetyo menyebut kajian tersebut mencakup kemungkinan penggunaan teknologi nuklir pada peralatan utama sistem persenjataan (alutsista).
“Misalnya, untuk mungkinkah pembangkit listrik tenaga nuklir, atau mungkinkah peralatan alutsista berbahan nuklir, dan kesehatan terutama untuk medis,” ujarnya.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, sebelumnya menyampaikan pemanfaatan teknologi nuklir tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga mencakup bidang pangan dan kesehatan.
Ia menjelaskan BRIN telah mengembangkan berbagai inovasi berbasis teknologi nuklir untuk mendukung pelayanan medis sekaligus meningkatkan daya saing produk pangan nasional.
Arif mengatakan BRIN telah mengembangkan radiofarmaka yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi maupun membantu penanganan penyakit kanker. Pengembangan tersebut menjadi salah satu fokus pemanfaatan teknologi nuklir di sektor kesehatan.
Nuklir untuk Awetkan Bahan Pangan
Di sektor pangan, BRIN juga mendorong pemanfaatan teknologi nuklir melalui proses iradiasi untuk mengawetkan bahan pangan. Menurut Arif, teknologi tersebut dapat memperpanjang masa simpan buah dan komoditas pangan lainnya sehingga memenuhi persyaratan ekspor yang diterapkan sejumlah negara.
Ia menjelaskan BRIN telah memiliki fasilitas iradiasi di kawasan Pasar Jumat, Jakarta Selatan, serta di Serpong, Tangerang Selatan. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor Indonesia. “Nuklir untuk pangan dan Kesehatan ini harus didorong, termasuk di dalamnya untuk pengawetan pangan,” kata Arif di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (7/8).
