Telkom Tutup Blanja.com, Sinyal E-Commerce Tak Kebal Dampak Pandemi?

Selain Blanja.com milik Telkom, dua e-commerce lebih dulu berhenti beroperasi, padahal layanannya diminati saat pandemi. Investor menilai, ini disebabkan oleh ketatnya persaingan.
Desy Setyowati
2 September 2020, 10:35
Selain Blanja Milik Telkom, Dua E-Commerce Tutup Saat Pandemi Corona
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Ilustrasi, warga memilih barang-barang belanjaan yang dijual secara daring di Jakarta, Jumat (27/12/2019).

Situs e-commerce besutan Telkom Grup, Blanja.com akan menyetop operasionalnya pada Oktober. E-commerce lainnya, yakni  Sorabel dan Stoqo, lebih dulu berhenti beroperasi di tengah pandemi corona.

Telkom Grup mengatakan, Blanja.com ditutup karena perusahaan berfokus pada bisnis e-commerce di segmen korporasi, serta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Model bisnisnya juga akan berfokus pada Business to Business (B2B).

Blanja.com merupakan perusahaan patungan (joint venture) milik Telkom Grup dengan eBay asal Amerika Serikat (AS). E-commerce ini resmi dibentuk pada 2014. 

Direktur Digital Business Telkom Fajrin Rasyid menjelaskan, penutupan itu merupakan bagian dari langkah strategis perusahaan untuk mengembangkan bisnis e-commerce. “Ini sejalan dengan rencana strategi jangka panjang kami, dalam rangka meningkatkan profitabilitas perusahaan," ujar dia, dikutip dari siaran pers, Rabu (2/9).

Sebelum Blanja.com, Sorabel dan Stoqo menghentikan operasionalnya di Indonesia. Stoqo yang mengusung model B2B resmi tutup pada April, sementara Sorabel pada Juli.

Sorabel menyasar segmen menengah ke bawah. Namun, sebagian masyarakat pada segmen ini terpukul pandemi virus corona.

Covid-19 menyerang pada titik paling rentan dalam strategi pendanaan dan menghancurkan basis pelanggan inti kami,” kata Co-Founder Sorabel Jeffrey Yuwono, dikutip dari e27, akhir Juli lalu (27/8).

Meski begitu, Yuwono berencana membangun bisnis Sorabel secara offline. “Sekarang kami benar-benar memiliki merek yang berdiri untuk fashion, kami siap mencoba secara offline. Jadi saya berharap bisa membukanya secepatnya," kata dia, dikutip dari e27, pada Agustus (12/8).

Ketiga platform itu tutup di tengah tingginya peminat layanan e-commerce saat pandemi Covid-19, sebagaimana tecermin pada Databoks di bawah ini:

Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) Jefri Sirait menilai, startup yang menutup layanan padahal tengah diminati, lebih disebabkan oleh kompetisi. “Saat bertarung, ujungnya pasti soal harga,” kata dia kepada Katadata.co.id, beberapa waktu lalu (5/8).

Di satu sisi, perekonomian yang tertekan pandemi corona membuat daya beli masyarakat menurun. Konsumen cenderung memilih layanan yang diperlukan saja atau essential goods. "Demand menurun. Di banyak hal turunnya cukup drastis," katanya.

Selain karena kompetisi, startup-startup yang tak bisa bertahan karena gagal mengelola keuangan. "Kenyataannya, tidak semua startup akan bertahan meski di sektor yang diuntungkan oleh adanya pandemi," kata CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro.

Ia menilai, pengeluaran promosi yang besar atau 'bakar uang' juga akan mempengaruhi daya tahan startup di tengah pandemi. "Untuk bisa bertahan juga ditentukan oleh user experience dan ketersediaan barang," katanya.

Reporter: Cindy Mutia Annur, Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait