Microsoft Buat Alat Pendeteksi Video Hoaks Berbasis Kecerdasan Buatan

Microsoft meluncurkan alat untuk mendeteksi video manipulasi berbasis teknologi deepfake. Diluncurkan menjelang Pilpres di AS.
Image title
3 September 2020, 10:50
Microsoft Buat Alat Pendeteksi Video Hoaks Berbasis Kecerdasan Buatan
123RF.com

Microsoft meluncurkan alat pendeteksi konten manipulasi deepfake. Perkakas dari perusahaan teknologi ini diluncurkan menjelang pemilihan presiden (pilpres) di Amerika Serikat (AS) guna mengantisipasi maraknya penyebaran hoaks.

Deepfake adalah bentuk manipulasi suara dan wajah seseorang dalam bentuk video dengan mengandalkan deep learning. Teknologi deep learning merupakan bagian dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang secara umum mampu mengolah audio dan video.

Alat itu akan memberikan skor kepercayaan atau persentase konten yang dinilai manipulasi. “Persentase ini dapat ditampilkan secara real-time pada setiap frame, saat video diputar,” kata perusahaan dikutip dari TechCrunch, Rabu (2/9).

Perusahaan mengklaim, alat bernama video authenticator itu dapat mendeteksi elemen deepfake yang sulit dianalisis oleh manusia. Sebab, alat ini menggunakan kumpulan data publik dari Face Forensic ++.

Microsoft bermitra dengan AI Foundation yang berbasis di San Francisco, AS untuk menyediakan alat tersebut. Alat ini dikembangkan oleh divisi Research and Development dari Microsoft Research. "Kami berharap metode ini akan terus berkembang kecanggihannya," kata Microsoft.

Perusahaan juga membuat sistem yang memungkinkan produsen konten untuk menambahkan sertifikat digital ke media. Sertifikat itu memberikan titik referensi terkait keaslian, agar konten dapat dipercaya.

Penasihat teknologi Nina Schick mengatakan, penggunaan video deepfake untuk menyebarkan hoaks, relatif sedikit saat ini. "Satu-satunya penggunaan (deepfake) yang sangat luas, yang kami ketahui, yakni untuk pornografi non-konsensual terhadap wanita," katanya, dikutip dari BBC Internasional.

Namun, ia menilai bahwa deepfake dapat membahayakan masyarakat awam yang sulit membedakan konten palsu atau tidak. "Deepfake ada di mana-mana dalam waktu sekitar tiga hingga lima tahun ke depan. Jadi kami perlu mengembangkan alat ini ke depan," ujarnya.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait