Media Pemerintah Tiongkok Hapus Jack Ma dari Daftar Pemimpin Wirausaha

Media massa yang didukung oleh pemerintah Tiongkok tidak memasukkan Jack Ma dalam daftar pemimpin wirausaha. Ini terjadi di tengah perseteruan Ma dan Beijing.
Image title
2 Februari 2021, 15:00
Media Milik Beijing Hapus Jack Ma dari Daftar Pemimpin Wirausaha
Ajeng Dinar Ulfiana|KATADATA.
Pendiri Alibaba Jack Ma

Media massa yang didukung oleh pemerintah Tiongkok, Shanghai Securities News tidak memasukkan pendiri Alibaba Jack Ma dalam daftar pemimpin wirausaha di Negeri Panda. Surat kabar ini lebih mengangkat cerita pendiri Tencent, Pony Ma.

Shanghai Securities News memuat laporan berisi daftar pengusaha besar di Tiongkok, yang diterbitkan pada hari ini (2/2). Wirausaha yang disebut yakni pendiri Huawei Ren Zhengfei, pendiri Xiaomi Lei Jun, pendiri Tencent Pony Ma hingga Wang Chuanfu dari BYD.

Dalam laporan itu, Shanghai Securities News mengatakan bahwa ada beberapa pengusaha yang masuk daftar karena menjadi ‘pahlawan’. "Mereka menghembuskan kehidupan baru dalam reformasi ekonomi Tiongkok," demikian isi laporan, dikutip dari Bloomberg, Selasa (2/2).

Namun, tidak ada nama pendiri Alibaba Jack Ma dalam daftar tersebut. Sedangkan raksasa e-commerce itu akan mengumumkan laporan keuangan pada hari ini (2/2).

Tidak masuknya Ma dalam daftar pemimpin wirausaha Tiongkok itu diduga karena pertentangannya dengan Beijing.

Pemerintah Tiongkok memperketat pengawasan terhadap Alibaba, setelah Ma berpidato dalam acara Bund Summit di Shanghai pada akhir Oktober 2020 lalu. Saat itu, Ma mengatakan bahwa Beijing menghambat inovasi, khususnya di bidang keuangan.

Bejing pun memanggil Ma pada November 2020. Setelah itu, ia ‘menghilang’ dan baru muncul pada akhir pekan lalu (20/1).

Pemerintah Tiongkok pun menyelidiki Alibaba atas dugaan monopoli sejak akhir tahun lalu. Sedangkan otoritas keuangan meminta anak usaha, Ant Group untuk merombak bisnis dan hanya berfokus pada layanan pembayaran.

Alibaba pun menghadapi ancamam hukuman denda 10% dari pendapatan atau sekitar US$ 7,8 miliar, jika terbukti menyalahgunakan dominasi pasar.

Di tengah perseteruan itu, Bloomberg mencatat bahwa nilai kapitalisasi pasar Alibaba turun US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.106 triliun sejak Beijing menghentikan rencana penawaran saham perdana alias IPO Ant Group. Raksasa teknologi Tiongkok ini juga disebut-sebut terancam dinasionalisasi.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham Alibaba turun lebih dari 16% sejak rencana IPO Ant Group terhenti. Investor pun memantau kinerja keuangan perusahaan yang akan diumumkan pada hari ini (2/2).

Survei Refinitiv menunjukkan, analis memperkirakan pendapatan Alibaba pada kuartal yang berakhir Desember 2020 mencapai 215,4 miliar yuan atau US$ 33,3 miliar. “Tumbuh 33% secara tahunan (year on year/yoy),” demikian isi laporan, dikutip dari CNN Internasional, Selasa (2/2).

Hal itu karena masyarakat beralih ke belanja online selama pandemi corona. Selain itu, Alibaba mencetak rekor nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) pada 11.11 tahun lalu yakni lebih dari 372,3 miliar yuan atau US$ 56,42 miliar.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait