Transaksi Melonjak, Komisaris BEI: Fintech Berpeluang Besar IPO

BEI menilai, fintech berpeluang besar untuk IPO karena transaksi melonjak saat pandemi corona. Namun, startup di sektor ini menghadapi sejumlah tantangan untuk bisa melantai di bursa saham.
Image title
31 Maret 2021, 19:15
Transaksi Melonjak, Komisaris BEI: Fintech Berpeluang Besar IPO
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Penggunaan layanan pembayaran digital meningkat saat pandemi corona. Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Sjahrir menilai, startup teknologi finansial (fintech) berpeluang besar mencatatkan saham perdana alias IPO seiring meningkatnya transaksi.

"Kami melihat, pertumbuhan fintech pesat," kata Pandu dalam acara Fintech Talk, Rabu (31/3). “Investor melihat pertumbuhan fintech yang besar.”

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi uang elektronik melonjak saat pandemi Covid-19. Pada 2018, nilainya hanya Rp 33,67 triliun. Kemudian naik menjadi Rp 145,1 triliun pada 2019, dan mencapai Rp 144,6 triliun selama Januari-September 2020.

Advertisement

Seiring peningkatan transaksi itu, Pandu menilai bahwa startup di sektor fintech berpeluang untuk IPO. Setidaknya untuk dua kategori yakni pembayaran dan pembiayaan (lending).

"Sekarang kepercayaan masyarakat terhadap pembayaran online sudah tinggi. Ada OVO, DANA, GoPay dan lainnya," ujar Pandu. Selain itu, “masyarakat Indonesia masih banyak yang belum tersentuh layanan perbankan. Maka fintech lending akan cepat tumbuh.”

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pinjaman oleh fintech lending di Indonesia mencapai Rp 169,5 triliun per Februari. Tercatat ada 49 juta rekening peminjam (borrower) dan 594.257 pemberi pinjaman (lender).

Meski begitu, ada beberapa tantangan bagi fintech di Indonesia untuk IPO yakni profitabilitas, struktur saham, dan infrastruktur. Perusahaan harus mencatatkan laba apabila menyasar papan utama.

Selain itu, harus memiliki aset berwujud bersih (net tangible assets) minimal Rp 100 miliar. Sedangkan startup rata-rata memiliki aset tidak berwujud (intangible assets).

Kepala Unit Evaluasi dan Pemantauan BEI Hendra Ahmad Hidayat menyarankan fintech mencatatkan IPO di papan akselerasi. Sebab, perusahaan tidak perlu mencatatkan laba terlebih dahulu.

"Saat ini, startup seperti fintech belum mempunyai laba usaha. Di papan akselerasi, fintech boleh rugi. Asalkan selama enam tahun harus ada laba usaha," katanya.

Untuk mendorong lebih banyak startup IPO, bursa juga membuat IDX Incubator. Ini merupakan ruang inkubasi khusus perusahaan skala kecil dan menengah agar menjadi emiten.

Tercatat ada 120 startup binaan yang masuk IDX Incubator. Sebanyak 55 di antaranya masuk program road-to-IPO. Lalu, tiga startup binaan sudah IPO.

"Melalui IDX Incubator itu kami siapkan co-working space, memberi pelatihan, bertemu regulator dan program lainnya," kata Hendra.

Sejauh ini, ada beberapa startup yang sudah melantai di bursa saham. Mereka di antaranya Surge Digital Ecosystem, Cashlez, Yelooo Integra Datanet, Tourindo Guide Indonesia, M Cash Integrasi, Digital Mediatama Maxima, Distribusi Voucher Nusantara, Kioson Komersial Indonesia, NFC Indonesia, dan Telefast Indonesia.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait