Startup Ula yang Didukung Jeff Bezos Raih Rp 328,4 Miliar

Ula meraih tambahan dana US$ 23,1 juta. Startup yang menyasar warung ini sebelumnya memperoleh pendanaan dari perusahaan investasi milik Jeff Bezos dan investor Gojek.
Desy Setyowati
17 November 2021, 06:00
startup, ula, jeff bezos, tencent, warung, amazon, gojek,
Ula
Dari kiri ke kanan: COO Ula Riky Tenggara, CCO Derry Sakti, CEO Nipun Mehra, CTO Alan Wong

Startup e-commerce business to business (B2B) Ula meraih tambahan dana US$ 23,1 juta atau sekitar Rp 328,4 miliar dari Tiger Global. Ini sebagai bagian dari putaran pendanaan seri B yang diperpanjang.

Salah satu pendiri Flipkart, Binny Bansal, juga berpartisipasi dalam putaran pendanaan tersebut. Total investasi yang diperoleh dari putaran ini US$ 110 juta.

“Pendanaan tambahan dalam putaran Seri B kami menunjukkan minat investor yang berkelanjutan dan keyakinan kuat pada visi dan misi Ula,” kata Co-founder sekaligus CEO Ula Nipun Mehra dikutip dari KrAsia, Selasa (16/11).

Investasi baru itu datang sebulan setelah Ula mengumpulkan US$ 87 juta pada penutupan pertama putaran Seri B. Pendanaan ini dipimpin oleh Prosus Ventures, Tencent, dan B-Capital.

Advertisement

Bezos Expeditions, perusahaan investasi yang dimiliki oleh pendiri Amazon Jeff Bezos, juga berpartisipasi dalam putaran pendanaan tersebut. Ini menandai pertama kalinya Bezos Expeditions berinvestasi di perusahaan Asia Tenggara.

Selain itu, ada beberapa penanam modal di Asia Tenggara yang berpartisipasi yakni investor Gojek, Northstar Group, AC Ventures, dan Citius. Investor terdahulu seperti Lightspeed India, Sequoia Capital India, Quona Capital, dan Alter Global juga turut serta.

Startup e-commerce yang membidik warung itu juga disuntik modal oleh SMDV dan Saison Capital. Selain itu, Ula menggaet Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Sjahrir sebagai penasihat perusahaan.

Ula akan menggunakan dana tersebut untuk memperluas cakupan geografis. Selain itu, merekrut lebih banyak pekerja dan dan meningkatkan kemampuan produk, termasuk memperluas penawaran ‘beli sekarang, bayar nanti’ atau Buy-Now-Pay-Later (BNPL).

“Saat bergerak maju, kami akan terus mengambil pendekatan yang mengutamakan pelanggan untuk mengatasi masalah mendasar, dengan teknologi,” kata Nipun.

Total, Ula mengumpulkan US$ 140,6 juta sejak berdiri tahun lalu. Startup ini menyasar pemilik warung tradisional, khususnya di kota tingkat (tier) dua hingga empat. Bukalapak juga membidik segmen ini lewat Mitra Bukalapak.

Ula mengklaim bisnis tumbuh 230 kali lipat. Ula kini menawarkan lebih dari 6.000 produk dan menggaet 70 ribu lebih warung. Ula juga memiliki tim yang tersebar di tiga negara.

Berdasarkan laman resmi, Ula menyediakan tiga layanan yakni:

  1. Lokapasar B2B: menyediakan produk dengan harga yang diklaim kompetitif
  2. Program penjualan berbasis komunitas
  3. Titik Ula: menawarkan pelaku UMKM atau siapapun untuk memanfaatkan tempat kosong yang dimiliki sebagai titik antar-jemput barang pesanan pelanggan Ula dan menghasilkan uang tambahan

Ula menggunakan data transaksi warung dan pengetahuan tentang pasar ritel untuk memberikan pilihan layanan pay later, yang nilai pasarnya diprediksi US$ 150 miliar di Indonesia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait