Rupiah di Bawah Rp 15.000/US$ Pagi Ini Didukung Surplus Neraca Dagang
Rupiah bergerak ke level 14.988 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,17% pada perdagangan di pasar spot pagi ini. Kurs rupiah menguat ditopang surplus neraca dagang yang kembali naik.
Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat pagi ini seperti:
- Won Korea Selatan 0,43%,
- Baht Thailand 0,75%
- Rupee India 0,14%
- Yuan Cina 0,07%
- Dolar Taiwan 0,16%
- Yen Jepang 0,09%
- Dolar Singapura 0,06%
Sebaliknya, dolar Hong Kong, peso Filipina dan ringgit Malaysia terkoreksi tipis.
Rupiah berpeluang menguat hari ini di tengah absennya data ekonomi Amerika Serikat dan kinerja positif neraca dagang Indonesia Juni. Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah menguat ke level Rp 14.950, dengan potensi resisten di kisaran Rp 15.030 per dolar AS.
Dolar AS masih tertekan dengan indeks atau DXY masih bertahan di bawah 100. Data terbaru aktivitas manufaktur negara bagian New York per Juni, yang dirilis tadi malam, menunjukkan pertumbuhan dan melampaui ekspektasi pasar yang memprediksi kontraksi.
"Kontraksi dolar AS karena pelaku pasar terlihat menunggu data penting lainnya seperti penjualan ritel Amerika per Juni yang akan dirilis malam ini," kata Ariston dalam catatannya pagi ini, Selasa (18/7).
Dari dalam negeri, rupiah mendapatkan dukungan dari surplus neraca dagang Juni yang kembali naik menjadi surplus US$ 3,45 miliar. Nilai ini jauh di atas realisasi bulan sebelumnya yang tidak mencapai setengah miliar dolar.
Surplus yang kembali naik itu karena nilai impor turun tajam dibandingkan penurunan ekspor. Penurunan impor terjadi di semua jenis barang.
Sementara Analis pasar uang Lukman Leong memperkirakan kurs garuda menguat terbatas hari ini. Ia memprediksi pergerakan rupiah di rentang Rp 14.950 – Rp 15.050 per dolar AS.
"Dengan absennya data ekonomi penting semalam dan pagi ini, investor cenderung wait and see menantikan data penjualan ritel AS malam ini," ujarnya.
