Tiga Strategi Besar Untuk Lazada Jaring 300 Juta Pelanggan
Raksasa teknologi Alibaba menargetkan Lazada gaet 300 juta pengguna. SVP Seller Operations Lazada Indonesia Haikal Bakti Anggoro menyebutkan ada tiga strategi yang diterapkan oleh perusahaan untuk mencapai target itu.
Pertama, dari sisi supply atau pasokan, Lazada fokus untuk menyediakan barang-barang yang dicari oleh konsumen.
Kegiatan proaktif untuk mencapai UMKM, misal di daerah seperti Jawa tengah, Jawa Timur dan lainnya dengan menambahkan presence atau lokasinya pada logistik.
"Karena Lazada tidak bisa masuk di mana-mana, sehingga motor Lazada logistik bisa di mana-mana dan di situ biasanya orang sadar Lazada punya kurir. Front liner kami sebenarnya buat membuat impression ke mata konsumen. Jadi logistik juga berperan di situ," kata Haikal di Jakarta, Rabu (19/10).
Pada sisi supply, Lazada mencoba untuk amankan sebisa mungkin. "Karena kalau barangnya ada, pilihan barangnya banyak orang pun yang bisa convert jadi customer makin banyak karena yang targetnya bukan sekedar visitor," ujarnya. "Targetnya adalah orang datang dan menjadi konsumen, sehingga supply-nya harus ada."
Kedua adalah fungsi e-commerce sebagai referensi barang. "Strategi kami ini tidak mau hanya menjadi e-commerce yang fungsional itu saja," katanya. "Saya datang saya cari, saya mau, saya check out, tapi sekarang menjadi reference point untuk mereka sekedar browsing, tren terbaru ada apa aja."
Oleh karena itu Lazada meluncurkan LazLive+, di mana pengguna bisa mencari inspirasi barang, promo, dan tren terbaru. "Jadi orang keeps coming back, untuk menjadi salah satu referensi poin untuk mencari tren terbaru," kata Haikal.
Ketiga adalah kegiatan offline seperti pameran hingga Jakarta Fashion Week. "Karena itu yang membantu melebarkan jangkauan," kata dia.
Haikal mengatakan salah satu poin paling penting belanja online pengiriman yang cepat dan juga gratis ongkir. Karena itu yang bisa membuat orang menjadi pengguna.
Poin kedua ialah presentasi mulut ke mulut, kini sudah menjadi online yaitu bentuknya seperti review. "Makanya syaratnya harus mau baik reviewnya, bagus karena itu bisa mentrigger pembelaja selanjutnya," kata Haikal.
Sedangkan poin ketiga yakni memperbesar cakupan pasar logistik. "Semakin banyak paket yang dideliver oleh lazada logistik, itu memungkinkan kami untuk menjadi lebih efisien dan juga menyampaikan daerahnya lebih cepat pada customer," jelasnya.
"Kami juga menyediakan layanan gudang, dimana penjual bisa menitipkan barangnya supaya tidak terlalu pusing mengurus bisnis," tambahnya.
Alibaba Suntik Modal Lazada Rp 19,3 Triliun
Pada September, Alibaba dikabarkan menyuntik modal Lazada total US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 19,3 triliun. Raksasa teknologi Cina ini disebut-sebut ingin mendorong e-commerce Singapura ini menyasar pasar Eropa, yang lebih dulu dirambah Shopee.
Dana US$ 1,3 miliar tersebut diberikan dalam dua tahap, yakni US$ 912,5 juta (Rp 13,6 triliun) dan US$ 378,25 juta (Rp 5,7 triliun). “Alibaba menginvestasikan US$ 912,5 juta di Lazada menurut pengajuan baru-baru ini ke regulator keuangan di Singapura,” demikian dikutip dari Asia Nikkei Review, Kamis (1/9).
Sedangkan US$ 378,25 diberikan pada Mei. Maka total investasi Alibaba ke Lazada US$ 1,3 miliar sejak awal tahun ini. Alibaba juga dikabarkan mencari dana untuk menyuntik modal Lazada US$ 1 miliar. Namun pembicaraan dengan calon investor ditunda, karena ada ketidaksepakatan soal valuasi Lazada.
“Pembiayaan yang diusulkan dipandang sebagai pendahuluan dari spin-off dan pencatatan saham perdana alias initial public offering (IPO) Lazada,” demikian dikutip dari Bloomberg.
Alibaba disebut-sebut mempunyai target ambisius lewat investasi tersebut. Tahun lalu, perusahaan Cina ini mengatakan kepada investor bahwa mereka ingin melipatgandakan nilai transaksi bruto (GMV) di Lazada menjadi US$ 1 miliar.
Alibaba juga dikabarkan berencana mendorong Lazada masuk ke pasar baru, termasuk Eropa. Shopee lebih dulu merambah pasar ini.
Hal itu dilakukan saat Alibaba menghadapi sejumlah tantangan di Cina. Kendala yang dimaksud seperti pengetatan kebijakan oleh Beijing, kebijakan pembatasan aktivitas akibat Covid-19, dan sektor konsumen yang semakin jenuh sehingga memperlambat pertumbuhan.
Pada awal Agustus, Alibaba melaporkan pendapatan 205,55 miliar yuan (US$ 31 miliar) untuk kuartal yang berakhir Juni. Pertumbuhan pendapatan yang stagnan ini menjadi yang pertama dalam sejarah Alibaba.
Dengan target-target tersebut, Lazada pun mengganti CEO sebanyak lima kali dalam lima tahun. Kali ini, Lazada dipimpin oleh James Dong yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Lazada Thailand dan Vietnam.
“Eropa jelas merupakan pasar yang sangat besar. Untuk sebagian besar brands Eropa, mitra ritel terbesar mereka adalah Alibaba Group karena penjualan mereka di Cina dan di pasar lain,” kata Dong dalam wawancara di Singapura dikutip dari Bloomberg, Kamis (1/9). “Kami pergi ke mana brands ingin kami pergi.”
