Biaya Admin Marketplace Naik, Seller Mulai Lirik Kanal Penjualan Mandiri
Memasuki Mei 2026, hampir seluruh platform e-commerce besar di Indonesia menaikkan biaya layanan secara bersamaan. Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop kompak mengubah skema biaya mereka. Mulai dari tarif program ongkir gratis, biaya logistik per pesanan, hingga batas maksimum komisi.
Bagi pelaku usaha yang selama ini mengandalkan marketplace sebagai satu-satunya kanal penjualan, perubahan ini bukan penyesuaian teknis biasa, hal ini menyentuh langsung angka di laporan laba rugi.
Kondisi ini mendorong banyak pelaku usaha untuk mulai mengevaluasi kembali strategi penjualannya. Marketplace tetap menjadi kanal penting, tetapi tidak lagi bisa dijadikan satu-satunya sumber penjualan.
Marketplace Masih Besar, tetapi Biaya Seller Makin Berat
Masalahnya bukan hanya soal besaran komisi. Melansir dari Bisnison, total potongan efektif di Shopee kini bisa mencapai 10-18 persen dari harga jual. Angka tersebut mencakup biaya admin, program ongkir gratis, hingga biaya pemrosesan Rp1.250 per transaksi yang berlaku sejak Juli 2025.
Di Tokopedia, angkanya berkisar 5-15,8 persen per transaksi. Sementara TikTok Shop, ketika fitur afiliasi diaktifkan secara agresif, bisa menyentuh 20-35 persen dari harga jual.
Di luar angka-angka itu, ada beban yang tidak langsung terlihat. Mulai 7 Mei 2026, Shopee mengubah sistem atribusi iklan GMV Max: transaksi kini tetap diklaim sebagai hasil iklan meski pembeli hanya melihat tanpa klik dan membeli dalam satu hari. Artinya, biaya iklan efektif seller bisa membengkak tanpa ada perubahan pada anggaran iklan itu sendiri.
Bagi seller dengan margin tipis, efek berlapis ini bisa langsung menggerus profitabilitas, bahkan ketika volume penjualan tetap stabil. Tidak heran jika semakin banyak pelaku usaha yang mulai mencari solusi biaya admin Shopee naik sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang mereka.
Saat Marketplace Jadi Satu-Satunya Kanal, Risiko Ikut Membesar
Saat berjualan di marketplace, di luar soal biaya, ada persoalan struktural yang lebih dalam. Data pembeli sepenuhnya berada di tangan platform: email, nomor HP, preferensi belanja, riwayat transaksi. Brand tidak bisa mengambil data itu untuk retargeting, newsletter, atau program loyalitas. Setiap pelanggan baru, secara efektif, adalah milik marketplace, bukan milik brand.
Kondisi ini mendorong Faris M. Hanif, VP of Managed Services Everpro, untuk angkat bicara. Baginya, momentum kenaikan biaya ini menjadi sinyal untuk mulai mengevaluasi ulang komposisi kanal penjualan.
"Marketplace masih menawarkan jangkauan besar, ekosistem yang sudah terbentuk, dan pembeli yang siap bertransaksi. Pertanyaannya bukan apakah Anda harus hadir di marketplace, melainkan apakah marketplace adalah satu-satunya kanal Anda? Ketika satu kanal mendominasi seluruh pendapatan, setiap perubahan kebijakan langsung berdampak ke seluruh bisnis sekaligus," ujar Faris M. Hanif, VP of Managed Services Everpro, dalam keterangan resmi, Jumat (22/5).
Poinnya tepat sasaran. Seller yang seluruh revenuenya bertumpu pada satu platform tidak hanya rentan terhadap kenaikan biaya, mereka juga rentan terhadap perubahan algoritma, kebijakan promosi, hingga aturan atribusi iklan yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Ditambah lagi, transparansi harga di marketplace yang memudahkan konsumen membandingkan produk justru mendorong perang harga tanpa akhir. Di mana seller bermodal besar bisa menurunkan harga hingga di bawah harga pokok dan tetap untung lewat volume.
Brand Lokal Mulai Membangun Kanal Direct-to-Consumer (D2C)
Salah satu strategi yang mulai dilirik oleh brand lokal adalah membangun kanal Direct-to-Consumer atau D2C. Melalui pendekatan ini, brand dapat menjual produk secara langsung kepada pelanggan tanpa sepenuhnya bergantung pada marketplace.
D2C bukan berarti seller harus meninggalkan marketplace. Sebaliknya, marketplace tetap bisa digunakan sebagai kanal awareness dan transaksi. Namun, brand juga perlu membangun kanal tambahan yang dapat mereka kendalikan sendiri.
Kanal tersebut bisa berupa website, landing page, WhatsApp Business, sistem pembayaran, pengiriman, hingga database pelanggan.
Dengan kanal penjualan mandiri, brand memiliki ruang lebih besar untuk mengatur pengalaman pelanggan. Mulai dari cara calon pembeli melihat penawaran, berinteraksi dengan customer service, melakukan pemesanan, hingga menerima produk.
Bagi seller yang ingin mulai melakukan diversifikasi kanal, membangun solusi jualan tanpa marketplace dapat menjadi langkah awal untuk menjaga margin dan memperkuat aset bisnis jangka panjang.
Jualan Mandiri Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Website
Salah satu tantangan utama saat brand mulai membangun kanal mandiri adalah kesiapan infrastruktur. Banyak seller sudah terbiasa dengan sistem marketplace yang menyediakan hampir semua kebutuhan transaksi dalam satu tempat.
Karena itu, jualan mandiri tidak cukup hanya membuat website atau membuka nomor WhatsApp. Seller perlu membangun ekosistem yang menghubungkan seluruh perjalanan pelanggan, mulai dari traffic, halaman penawaran, chat, order, pengiriman, hingga repeat order.
Dalam pendekatan ekosistem Everpro, proses ini dapat dibangun secara modular. Seller dapat memulai dari kebutuhan paling mendesak, lalu menambahkan komponen lain seiring pertumbuhan bisnis.
Faris M. Hanif menggambarkan pendekatan ini seperti Lego: modular dan bisa ditambahkan bertahap sesuai kebutuhan bisnis.
Komponen pertama adalah traffic. Saat tidak lagi sepenuhnya mengandalkan traffic marketplace, seller perlu mendatangkan calon pembeli dari kanal lain seperti iklan digital atau media sosial. Di tahap ini, Everpro Ads dapat membantu seller menjalankan campaign dengan aset iklan yang lebih siap untuk scale-up.
Komponen kedua adalah halaman konversi. Traffic dari iklan perlu diarahkan ke landing page yang ringan, jelas, dan fokus pada penawaran. Everpro Web Builder dapat digunakan untuk membuat halaman penjualan tanpa harus membangun website dari nol.
Komponen ketiga adalah chat commerce. Karena banyak transaksi di luar marketplace terjadi melalui WhatsApp, seller membutuhkan sistem yang mampu mengelola percakapan dengan lebih rapi. Everpro Chat membantu mengatur distribusi chat, template respons, hingga kebutuhan customer service agar proses closing lebih efisien.
Komponen keempat adalah pengiriman dan COD. Kepercayaan pembeli menjadi salah satu tantangan utama saat transaksi dilakukan di luar marketplace. Everpro Shipping membantu seller menyediakan opsi pengiriman, termasuk COD, agar pembeli merasa lebih aman saat melakukan transaksi.
Komponen kelima adalah pengelolaan pelanggan. Setelah pembeli berhasil melakukan transaksi, seller perlu menyimpan dan mengelola data pelanggan untuk follow-up, promosi, dan repeat order. Di tahap ini, Everpro CRM membantu brand membaca data pelanggan dan menjalankan kampanye lanjutan secara lebih terarah.
Dengan ekosistem seperti ini, seller tidak hanya membuat kanal penjualan baru, tetapi juga membangun sistem bisnis yang lebih terukur.
Diversifikasi Kanal Jadi Strategi Bertahan Seller
Dalam lanskap e-commerce yang semakin kompetitif, seller tidak bisa hanya mengandalkan satu kanal penjualan. Marketplace tetap relevan, tetapi brand perlu memiliki strategi diversifikasi agar bisnis lebih tahan terhadap perubahan biaya dan kebijakan platform.
Dengan memiliki kanal mandiri, seller dapat membangun aset yang lebih berkelanjutan. Mereka tidak hanya mengejar transaksi, tetapi juga mengumpulkan data pelanggan, memperkuat hubungan dengan pembeli, dan mengelola margin dengan lebih fleksibel.
Pada akhirnya, strategi terbaik bukan memilih antara marketplace atau kanal mandiri. Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Marketplace dapat digunakan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, sementara kanal penjualan mandiri dapat digunakan untuk membangun hubungan langsung dengan pelanggan dan menjaga profitabilitas bisnis dalam jangka panjang.
Bagi brand lokal dan UMKM, momentum kenaikan biaya marketplace dapat menjadi pengingat bahwa bisnis online yang sehat tidak hanya ditentukan oleh jumlah order, tetapi juga oleh seberapa besar kendali yang dimiliki atas kanal penjualan, data pelanggan, dan margin keuntungan.
