Harga Bitcoin Merosot Lagi, Penunjukan Kevin Warsh di The Fed Turut Jadi Katalis

Ahmad Islamy
1 Februari 2026, 11:20
Bitcoin
vecteezy.com/sasirin pamai
Ilustrasi bicoin versus dolar AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga bitcoin kembali tertekan pada perdagangan akhir pekan ini. Mata uang kripto terbesar di dunia itu turun 6,53% ke level US$ 78.719,63 pada Sabtu (31/1) pukul 12.48 waktu AS, atau Minggu (1/2) pukul 00.48 WIB. 

Pelemahan tersebut memperpanjang tren penurunan dari sesi sebelumnya. Mengutip Reuters, pada Jumat (30/1) waktu AS, bitcoin sempat menyentuh level US$ 81.104, yang merupakan posisi terendah sejak 21 November 2025. 

Tekanan terhadap aset kripto terjadi seiring menguatnya dolar AS, menyusul terpilihnya mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral AS yang baru, menggantikan Jerome Powell. Pasar khawatir Warsh akan membawa kebijakan moneter yang lebih ketat, terutama terkait pembatasan likuiditas dalam sistem keuangan.

Warsh secara terbuka menyerukan perubahan arah kebijakan di The Fed, termasuk dorongan untuk mengecilkan neraca bank sentral. Selama ini, bitcoin dan aset kripto lainnya kerap diuntungkan oleh kebijakan moneter yang longgar dan neraca The Fed yang besar, karena limpahan likuiditas cenderung mengalir ke aset-aset berisiko dan spekulatif.

Kepala ekonom Annex Wealth Management di Menomonee Falls, Wisconsin, Brian Jacobsen, menilai kombinasi neraca The Fed yang membengkak dan regulasi perbankan yang ketat justru membuat likuiditas tertahan di Wall Street, alih-alih mengalir ke perekonomian riil. 

Kondisi tersebut, menurutnya, turut memicu terbentuknya gelembung harga pada berbagai aset, mulai dari obligasi, kripto, logam mulia, hingga "saham-saham meme" (saham-saham yang populer di kalangan investor AS ritel lewat media sosial).

Tekanan juga dialami mata uang kripto lainnya. Ether tercatat anjlok 11,76% ke level US$ 2.387,77 per unit pada Sabtu sore waktu AS. Secara umum, pasar kripto masih kesulitan menemukan arah setelah mengalami koreksi tajam tahun lalu, terutama karena tertinggal dari reli yang terjadi pada emas dan pasar saham.

“Terkadang pergerakan koreksi ini saling memperkuat satu sama lain,” ujar Jacobsen.

Ia menambahkan, kejatuhan harga yang tajam pada perdagangan Jumat lalu kembali menyadarkan pelaku pasar akan tingginya risiko investasi di aset kripto. Menurutnya, kemungkinan aksi jual lanjutan masih terbuka dalam beberapa hari ke depan.

Pasar kripto kini menghadapi fase sulit di tengah ekspektasi yang sempat tinggi terhadap masuknya era arus dana besar dan regulasi yang lebih ramah di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Bitcoin sebagai pemimpin pasar bahkan telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya sejak mencapai rekor tertinggi pada Oktober tahun lalu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...