Pengguna Internet Indonesia Terbanyak Ke-4 Dunia, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Kamila Meilina
Oleh Kamila Meilina - Desy Setyowati
5 Januari 2026, 16:00
jumlah pengguna internet Indonesia terbanyak di dunia,
TikTok/@calon.sultan88
Chika Chandrika live TikTok
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Jumlah pengguna internet Indonesia merupakan yang terbanyak keempat di dunia, berdasarkan laporan Digital 2026 Global Overview Report yang dirilis We Are Social dan Meltwater pada Oktober 2025. Apa dampaknya ke ekonomi?

Laporan itu menyebutkan jumlah pengguna internet di dunia mencapai enam miliar atau 73,2% dari total penduduk global. Cina, India, Amerika Serikat, dan Indonesia menempati urutan teratas, dengan rincian sebagai berikut:

Banyaknya jumlah pengguna internet di Indonesia juga berpengaruh terhadap potensi ekonomi digital. Nilai transaksi ekonomi digital alias GMV Tanah Air diperkirakan US$ 99 miliar atau Rp 1.656 triliun (kurs Rp 16.740 per US$) tahun ini atau tumbuh 14% secara tahunan alias year on year (yoy), menurut laporan bertajuk eConomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company.

Proyeksi pertumbuhan nilai transaksi ekonomi digital Indonesia 2025 melebihi 2024 sebesar 9%. Rinciannya sebagai berikut:

  • 2023: US$ 80 miliar
  • 2024: US$ 87 miliar
  • 2025: US$ 99 miliar (proyeksi)
  • 2030: US$ 180 miliar – US$ 340 miliar (proyeksi)

Data We Are Social menunjukkan warga Indonesia menghabiskan 21 jam 50 menit per minggu di media sosial selama Januari - Oktober 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak tiga jam setiap hari digunakan untuk menonton video.

Country Director Google Indonesia Veronica Utami mengatakan waktu yang digunakan pengguna platform e-commerce maupun media sosial untuk menonton video sembari berbelanja online, naik lebih dari 400% pada 2025.  "Artinya apa? Ketika konsumen ingin mengambil keputusan belanja, lebih dari 40 juta log in user di indonesia aktif mencari di YouTube," ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, pada November 2025.

Tren itu mendorong penjual untuk menggunakan konten video. Jumlah pedagang yang memanfaatkan konten video melonjak hingga 75% yoy menjadi 800 ribu. Hal ini mendorong peningkatan penjualan 90% menjadi 2,6 miliar dalam setahun.

Google, Temasek, dan Bain & Company dalam laporan  eConomy SEA 2025 menyebutkan video commerce telah menjadi pendorong pertumbuhan yang sangat berdampak bagi ekonomi digital di Indonesia. Produk yang paling banyak dibeli konsumen di Indonesia lewat konten video sebagai berikut:

  1. Fashion dan aksesori: 28%
  2. Perawatan diri dan kecantikan: 20%
  3. Ponsel dan barang elektronik: 15%
  4. Perlengkapan rumah dan perkakas: 9%
  5. Kesehatan dan perlengkapan bayi: 7%
  6. Makanan dan minuman: 6%
  7. Kebutuhan sehari-hari: 5%
  8. Lainnya: 10%

“Sebanyak 10 penjual teratas di setiap kategori menyumbang 20% dari total transaksi kategori terkait,” demikian dikutip dari laporan.

Sedangkan daftar platform yang paling sering digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai berikut:

Rata-rata penggunaan aplikasi per sesi atau dalam satu kali buka di Indonesia sebagai berikut:

Sementara itu, untuk penggunaan harian, TikTok memimpin dengan satu jam 53 menit per hari. Disusul WhatsApp, sekitar 1 jam 52 menit per hari.

Google, Temasek, dan Bain & Company pun memperkirakan GMV e-commerce Indonesia tumbuh 14% yoy dari US$ 62 miliar pada 2024 menjadi US$ 71 miliar pada 2025. Nilai transaksi e-commerce Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 140 miliar pada 2030.

"Ini akselerasi signifikan dari tahun ke tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan video commerce," kata Veronica.

Seluruh sub-sektor ekonomi digital diperkirakan tumbuh tahun ini. Rinciannya sebagai berikut:

  • E-commerce: US$ 71 miliar, naik 14%
  • Perjalanan online alias online travel agent (OTA): US$ 9 miliar, naik 9%
  • Transportasi dan makanan, seperti taksi online dan ojol: US$ 10 miliar, naik 13%
  • Media online: US$ 9 miliar, naik 16%
  • Pembayaran digital: US$ 538 miliar, naik 27%
  • Pinjaman daring alias pinjol: US$ 13 miliar (berupa saldo buku pinjaman), naik 29%
  • Investasi online: US$ 6 miliar, naik 25%
  • Asuransi online: US$ 200 juta, naik 18%

Pertumbuhan nilai transaksi ekonomi digital Indonesia yang sebesar 14% hampir tiga kali lipat kenaikan ekonomi nasional 5,04% pada kuartal

Google, Temasek, dan Bain & Company juga menyoroti penggunaan QRIS yang signifikan. “QRIS nasional terus berkembang pesat, sehingga mampu menyatukan pasar dan mendorong penerapan teknologi digitak secara luas,” demikian dikutip dari laporan, pada November 2025.

Pada saat yang sama, bank digital baru, yang banyak di antaranya didukung oleh perusahaan teknologi besar, memperoleh nasabah dan pangsa pasar dengan cepat, sehingga memicu gelombang baru persaingan dan inovasi di seluruh sektor jasa keuangan.

Sementara itu, We Are Social dalam laporannya menyebutkan 55,8 juta masyarakat Indonesia belum terhubung layanan internet. Angka ini menjadikan Indonesia juga termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah penduduk belum terakses internet terbanyak di dunia. Jika jumlahnya berkurang, maka bisa memaksimalkan dampaknya terhadap potensi ekonomi digital.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina, Desy Setyowati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...