Grab Untung Rp 3,36 Triliun, EBITDA GoTo Gojek Lampaui Target
Grab dan GoTo Gojek Tokopedia sudah mengungkapkan laporan keuangan sepanjang tahun lalu. Grab mencatatkan untung Rp 3,36 triliun, sedangkan GoTo meraih laba operasional perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi (penyusutan), dan amortisasi EBITDA yang disesuaikan Rp 2 triliun.
“EBITDA yang disesuaikan melampaui pedoman yang telah kami tetapkan (Rp 1,8 triliun – Rp 1,9 triliun),” kata Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo dalam pernyataan tertulis, Rabu (12/3).
GoTo Gojek Tokopedia pun meningkatkan pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun tahun ini.
Tahun lalu, pendapatan bersih GoTo Gojek Tokopedia meningkat 24% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi Rp 18,3 triliun. Sedangkan total nilai penjualan atau Gross Transaction Value (GTV) inti menjadi Rp 400 triliun.
GTV layanan on-demand atau Gojek tumbuh 8% yoy menjadi Rp 66,5 triliun. Pendapatan bersihnya meningkat 16% yoy menjadi Rp 12,6 triliun, didukung oleh optimalisasi product mix, pendapatan iklan yang lebih tinggi, dan pengeluaran insentif yang disiplin.
EBITDA yang disesuaikan Gojek meningkat 105% yoy menjadi Rp 1,4 triliun. Perseroan tetap berkomitmen untuk mengakselerasi pertumbuhan melalui strategi berbasis produk yang berfokus pada kebutuhan pengguna affluent maupun mass market.
Khusus untuk bisnis pengantaran orang seperti GoRide dan GoCar, GTV naik 7% menjadi Rp 24,7 triliun, dengan pendapatan bersih naik 15% menjadi Rp 3,13 triliun. EBITDA yang disesuaikan naik 18% menjadi Rp 870 miliar.
Sedangkan bisnis pengantaran barang dan makanan mencatatkan GTV naik 8% menjadi Rp 41,8 triliun. Pendapatan bersih naik 16% menjadi Rp 9,46 triliun, EBITDA yang disesuaikan tumbuh 383% menjadi Rp 691 miliar.
Sementara itu, layanan keuangan digital, termasuk dompet digital, pembayaran, dan pinjaman menjadi salah satu motor pertumbuhan baru. Unit fintech GoTo mencatat EBITDA yang disesuaikan Rp 497 miliar. Angka ini menandai profitabilitas selama lima kuartal berturut-turut, didorong oleh peningkatan kinerja dari segmen payments dan pinjaman.
Pengguna yang bertransaksi tahunan tumbuh 36% menjadi 57 juta seiring langkah perseroan yang terus meningkatkan interaksi pengguna di dalam aplikasi dan monetisasi.
Sementara itu pendapatan pinjaman tumbuh 95% secara tahunan menjadi Rp 3,8 triliun untuk setahun penuh. Hal ini dikarenakan peningkatan nilai buku pinjaman konsumen menjadi Rp 8,8 triliun atau naik 68%.
Grab Untung Rp 3,36 Triliun
Sepanjang 2025, Grab mencatat sejarah dengan meraih laba bersih pertama selama setahun penuh mencapai US$ 200 juta atau Rp 3,36 triliun (kurs Rp 16.800 per dolar AS). Angka ini positif karena pada 2024, Grab merugi US$ 158 juta.
Pendapatan tumbuh 20% secara tahunan pada 2025 alias year on year (yoy) menjadi US$ 3,37 miliar atau Rp 56,62 triliun. Sementara EBITDA yang disesuaikan melonjak 60% menjadi US$ 500 juta atau Rp 8,4 triliun. Arus kas bebas yang disesuaikan mencapai 58% dari total EBITDA yang disesuaikan atau US$ 290 juta sepanjang tahun.
Layanan pengantaran orang GrabBike dan GrabCar mencatatkan pendapatan tumbuh 16% menjadi US$ 1,22 miliar, dengan nilai transaksi bruto alias gross merchandise value atau GMV naik 19% menjadi US$ 7,9 miliar. EBITDA yang disesuaikan juga meningkat 21% menjadi US$ 690 juta, dengan margin naik menjadi 8,7%.
Segmen pengantaran barang dan pesan menghasilkan pendapatan US$ 1,8 miliar sepanjang tahun, tumbuh 21% yoy. GMV deliveries meningkat 21% menjadi US$14,2 miliar.
Sedangkan layanan keuangan mencatat pertumbuhan pendapatan tercepat, meskipun masih mencatatkan rugi. Pendapatan setahun penuh naik 37% menjadi US$ 347 juta.
Capaian tersebut menandai perubahan penting dalam industri layanan on-demand di Asia Tenggara. Setelah bertahun-tahun mengandalkan subsidi dan ekspansi agresif, Grab dan GoTo kini mulai menitikberatkan strategi pada efisiensi operasional, monetisasi ekosistem, serta penguatan layanan keuangan digital untuk menjaga pertumbuhan sekaligus profitabilitas.
