Pertamax Naik, Pengemudi Ojol Berharap Aturan Komisi 8% Segera Berlaku
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax, membuat pengemudi ojek online alias ojol berharap kebijakan pemangkasan potongan komisi aplikator menjadi 8% bisa segera diterapkan. Harga Pertamax yang semula dijual Rp 12.300 per liter pada awal bulan ini, pada Rabu (10/6), menjadi Rp 16.250 per liter.
Pengemudi ojol menilai jika komisi 8% diterapkan kebijakan tersebut dapat membantu meringankan beban operasional yang semakin meningkat. Sebab, saat ini pengemudi ojol harus menanggung potongan komisi hingga berkisar 20%.
Salah seorang pengemudi ojol, Suparyono, mengaku belum mengisi ulang Pertamax karena masih memiliki sisa bahan bakar dari hari sebelumnya. Namun, ia mendapatkan informasi dari rekan sesama pengemudi bahwa harga BBM nonsubsidi itu naik signifikan.
"Iya, saya belum beli karena yang kemarin masih ada. Tapi tadi teman sudah ada yang beli katanya naik jadi segitu. Mahal benar, ya, kemarin cuma Rp 12 ribu-an," kata Suparyono kepada Katadata.co.id, Rabu (10/6).
Menurutnya, lonjakan harga yang mencapai hampir Rp 4 ribu per liter terlalu besar untuk ditanggung di tengah kondisi pendapatan yang tidak menentu. Ia pun mengaku selama ini juga jarang membeli Pertamax, namun ke depan dipastikan hanya untuk membeli Pertalite setelah kenaikan harga BBM non subsidi.
"Kayaknya nggak lah pakai Pertamax lagi. Sebenarnya jarang juga beli Pertamax, kalau antrean Pertalite lagi penuh saja. Tapi, kalau Pertamax cuma naik seribu enggak apa-apa. Kalau sampai hampir Rp 4 ribu lumayan, ya. Belum lagi ini dipotong buat aplikasi kalau narik," katanya.
Di tengah kenaikan biaya BBM tersebut, ia menyambut baik rencana penurunan potongan komisi aplikator menjadi 8%. Menurutnya, kebijakan itu dapat sedikit mengompensasi kenaikan pengeluaran untuk bahan bakar.
"Ya, lumayan sih itu. Potongannya jadi nggak besar, bisa nutup lah ini kalau bensin jadi mahal. Kan selama ini potongan bisa sekitar 20% ya. Kalau jadi 8%, jadi lebih besar buat kitanya," ujarnya.
Ia pun berharap aturan tersebut bisa segera direalisasikan. Dengan begitu, beban operasional para mitra pengemudi bisa lebih ringan.
Hal senada disampaikan Iman, pengemudi ojol lainnya. Ia mengaku selama ini menggunakan Pertalite sehingga belum terdampak langsung oleh kenaikan harga Pertamax. Meski demikian, ia menilai lonjakan harga BBM tetap menjadi beban bagi masyarakat kecil.
"Alhamdulillah saya ngisinya Pertalite terus. Jadi, masih murah lah. Semoga Pertalite juga nggak dinaikin nanti. Cuma berat lah itu buat orang kecil, ya, masa naiknya banyak banget Pertamax jadi Rp 16 ribuan," ujarnya.
Perpres Ojol Tak Kunjung Terbit
Iman juga mengaku mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang akan membatasi aplikator transportasi online dalam mengambil komisi. Ketentuan ini ada di dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang transportasi online yang diumumkan presiden pada Hari Buruh 1 Mei 2026. Namun, hingga kini Perpres tersebut belum diterbitkan.
Ia menilai pemerintah perlu membenahi ekosistem layanan ojol secara lebih menyeluruh. "Saya setuju dengan aturan potongan 8% untuk ojol. Tapi menurut saya, yang penting pemerintah juga harus lebih dulu mengatur standar tarif untuk seluruh layanan ojol secara menyeluruh, bukan hanya layanan antar penumpang," kata Iman.
Ia menilai layanan antar makanan dan antar barang juga membutuhkan standar tarif yang jelas dan adil bagi seluruh pihak. Jika tidak diterapkan ke seluruh layanan maka akan terjadi ketimpangan.
“Akhirnya, aturan 8% nanti terasa hanya berlaku efektif di layanan antar penumpang saja, sementara layanan lain tetap penuh tekanan tarif murah," ujarnya.
Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda juga mendesak aturan tersebut direalisasikan. Ketua Umum Garda Indonesia Raden Igun Wicaksono mendesak Prabowo segera menerbitkannya.
“Presiden pernah sampaikan bahwa potongan aplikator maksimal 8% ini menjadi fundamental kenaikan pendapatan pengemudi ojol dan kami nantikan bulan Juni 2026 ini, jangan sampai berpindah bulan namun perpres tidak kunjung terbit karena dampaknya akan sangat signifikan bagi kondusifitas di kalangan pengemudi ojol secara nasional,” kata Igun.
Meski begitu, Igun menilai saat ini fluktuasi harga BBM non subsidi tidak berpengaruh signifikan pada operasional ojol. Garda memperkirakan 90%-95% pengemudi ojol sebagai pengkonsumsi BBM subsidi dan sekitar 5%-10% pengemudi ojol pengguna BBM non subsidi termasuk Pertamax.
“Sehingga, relatif stabil biaya operasional pengemudi ojol meski Pertamax naik,” ujarnya.
