Jumlah Pengguna Tembus 8 Juta, Keamanan Data Clubhouse Justru Disorot

Fahmi Ahmad Burhan
22 Februari 2021, 10:55
Jumlah Pengguna Tembus 8 Juta, Keamanan Data Clubhouse Justru Disorot
Katadata/Desy Setyowati
Aplikasi Clubhouse

Jumlah penguna aplikasi percakapan berbasis suara, Clubhouse meningkat 131% dalam dua pekan menjadi 8,1 juta. Di tengah lonjakan ini, keamanan platform justru disorot setelah salah satu pengguna mengunggah percakapan ke situs lain.

Data dari firma riset aplikasi App Annie menunjukkan, jumlah unduhan Clubhouse meningkat dari 3,5 juta menjadi 8,1 juta dalam dua minggu secara global. App Annie menilai, ini disebabkan oleh banyaknya tokoh teknologi dunia, publik figur hingga influencer yang menggunakan aplikasi ini.

Mereka di antaranya pendiri Tesla Elon Musk, CEO Facebook Mark Zuckerberg, Ashton Kutcher, Kanye West, Drake, Kevin Hart, dan banyak lagi.

Namun, aplikasi Clubhouse kini disorot terkait keamanan data. "Seorang pengguna tak dikenal dapat mengalirkan umpan audio Clubhouse dari beberapa ruang obrolan ke situs web pihak ketiga," kata juru bicara Clubhouse Reema Bahnasy dikutip dari Bloomberg, Senin (22/2).

Pakar keamanan siber memperhatikan bahwa audio dan metadata ditarik dari Clubhouse ke situs lain selama pekan lalu. “Seorang pengguna menyiapkan cara untuk membagikan login dari jarak jauh ke seluruh dunia,” kata CEO Internet 2.0 Robert Potter. 

Ia mengatakan, pelaku di balik pencurian audio di Clubhouse tersebut membangun sistem menggunakan perangkat JavaScript. Ini memungkinkan mereka mengompilasi aplikasi. 

Atas kejadian itu, Direktur Stanford Internet Observatory (SIO) sekaligus mantan kepala keamanan Facebook Alex Stamos menilai, Clubhouse tidak dapat menjanjikan privasi atas setiap obrolan.

Alhasil, pengguna aplikasi harus secara sadar menganggap bahwa semua percakapan dapat direkam. Alex menilai, akan menjadi masalah ke depan apabila pengguna mengira percakapan ini pernah bersifat pribadi.

Beberapa pekan lalu, SIO juga khawatir data percakapan suara di Clubhouse dikirim ke server di Negeri Panda. Ini karena infrastruktur back-end perusahaan media sosial itu disediakan oleh perusahaan Tiongkok bernama Agora. 

Data-data yang dikirimkan berupa nomor ID pengguna. "Dari data itu, bisa dilihat siapa berbicara dengan siapa," kata SIO dikutip dari The Verge, pekan lalu (14/2).

Halaman:
Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...