AI dan Data Center Jadi Mesin Baru Permintaan Listrik Energi Hijau Indonesia

Rahayu Subekti
16 September 2026, 14:42
data center, ekspor listrik, ekonomi hijau,
Equinix
Fasilitas pusat data pertama Equinix di Jakarta, JK1 Data Center..
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI dan pembangunan pusat data menjadi salah satu pendorong baru kebutuhan listrik di Indonesia. Pertumbuhan infrastruktur digital ini membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar sekaligus mendorong kebutuhan energi yang berasal dari sumber yang lebih hijau.

CEO Standard Chartered Indonesia Dony Donosepoetro mengatakan, kebutuhan investasi ekonomi hijau Indonesia tidak hanya berasal dari pembangkit energi baru dan terbarukan alias EBT, tetapi juga dari kendaraan listrik, infrastruktur digital, hingga pusat data.

“Digitalisasi dengan AI. Hal itu membutuhkan banyak daya, data center. Ini semuanya demand-nya juga increasing, growing, harus to be green, power by green energy,” ujar Dony dalam diskusi berjudul 'Investing in Sustainable Leaders: Mobilizing Capital for Indonesia's Future' Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).

Menurutnya, meningkatnya kebutuhan listrik juga membutuhkan investasi besar pada jaringan distribusi. Hal ini dibutuhkan untuk menghubungkan sumber energi dengan pusat konsumsi. “Green distribution itu butuh miliaran dolar,” katanya.

Dony mengungkapkan, Bank Dunia dalam lembaga internasional lain memperkirakan kebutuhan investasi ekonomi hijau bisa mencapai sekitar US$ 100 miliar atau Rp 1.768,7 triliun (kurs Rp 17.687 per dolar AS) hingga US$ 200 miliar atau Rp 3.537,4 triliun pada 2030.

Kebutuhan itu mencakup pembangkit dan jaringan listrik, rantai industri kendaraan listrik, digitalisasi serta berbagai infrastruktur lainnya.

“Indonesia punya peluang yang sangat besar dari green economy, butuh uang banyak, namun pada saat yang sama, hal ini menghadirkan peluang yang sangat besar bagi banyak investor global,” ujarnya.

Menurut Dony, modal global saat ini memiliki minat besar terhadap proyek-proyek transisi energi dan ekonomi hijau di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski peluang pembiayaan besar, Dony mengatakan Indonesia perlu mempercepat eksekusi proyek agar modal global tidak beralih ke negara lain. “Proyeknya masih growing di Indonesia sehingga para financier saling sikut-sikutan untuk mendapatkan proyek di Indonesia,” katanya.

Namun, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menjadi tujuan investasi. Negara berkembang lain juga menawarkan proyek transisi energi.

“Kalau negara lain eksekusinya lebih cepat, kan kita punya banyak emerging markets in the world yang memang juga melakukan energi transisi, tidak hanya Indonesia,” ujar Dony.

Oleh karena itu, ia menilai tantangan Indonesia saat ini bukan semata mencari modal, tetapi memastikan proyek dapat segera dieksekusi. Standard Chartered sendiri memiliki komitmen pembiayaan dan investasi sebesar US$ 300 miliar atau Rp 5.306,1 triliun untuk ekonomi hijau hingga 2030.

Untuk kawasan ASEAN, bank itu juga berkomitmen US$ 2 miliar atau Rp 35,37 triliun dalam pengembangan ASEAN Power Grid (APG), yang bertujuan memperkuat interkoneksi energi hijau di kawasan.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...