Komitmen Nestle untuk Berkelanjutan, Turunkan Emisi GRK

PT Nestle Indonesia mempunyai 4 fokus upaya keberlanjutan yaitu perubahan iklim, keberlanjutan kemasan, kepedulian air dan keberlajutan pengadaan bahan baku.
Image title
Oleh Doddy Rosadi - Tim Publikasi Katadata
25 Agustus 2022, 16:57
Komitmen Nestlé untuk Berkelanjutan, Turunkan Emisi GRK
Katadata

PT Nestlé Indonesia mengungkapkan komitmen perusahaan akan keberlanjutan untuk masa depan yaitu mencapai nol emisi pada 2050 dan memastikan 100% kemasan dapat didaur ulang. Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia Ganesan Ampalavanar mengatakan, PT Nestlé Indonesia mempunyai 4 fokus upaya keberlanjutan yaitu perubahan iklim, keberlanjutan kemasan, kepedulian air dan keberlajutan pengadaan bahan baku.


“Kami memastikan upaya pengurangan emisi dilakukan sepanjang mata rantai usaha (entire value chain), sehingga menjadikan komitmen kami ini lebih menantang. Dari pengadaan bahan baku, manufaktur, hingga pasca konsumsi,” kata Ganesan dalam webinar KATADATA SAFE 2022, Selasa (23/8/2022).


Ganesan menambahkan, komitmen mencapai emisi nol di 2050, dibagi menjadi komitmen jangka pendek di 2025 dan jangka menengah di 2030. Untuk jangka pendek pada 2025, PT Nestle Indonesia menargetkan pengurangan emisi sebesar 20%. Lalu mencapai 50% pada 2030.


“Beberapa target yang mau dicapai di jangka pendek pada 2025, antara lain kemasan 100% dapat didaur ulang, menggunakan sekam padi sebagai biomassa boiler seperti yang sudah dimulai di Pabrik Karawang, dan 20% bahan baku dari pertanian regeneratif,” lanjut Ganesan.


Memastikan kemasan plastik dapat didaur ulang juga merupakan salah satu upaya untuk mendukung pencapaian emisi nol. “Kami memiliki 3 strategi dalam mendukung kemasan plastik sirkular yaitu less packaging, better packaging, dan better system. Saat ini, 88% kemasan kami sudah bisa didaur ulang,” ujar Ganesan.


Salah satu bentuk komitmen dalam membantu memperbaiki kemasan adalah menggunakan sedotan kertas, di mana Nestlé merupakan perusahaan pertama yang menggunakan sedotan kertas pada kemasan siap konsumsinya.


“Ini merupakan satu contoh, di mana cost-nya ditanggung oleh Nestlé dan kami berharap konsumen-konsumen produk kami menilai apa yang dilakukan oleh Nestlé dalam perjuangan melindungi keberlanjutan ini,” lanjut Ganesan.


Meskipun penggantian dari sedotan kertas jauh lebih mahal dibandingkan dengan sedotan plastik, ujar Ganesan, tapi karena PT Nestlé Indonesia berkomitmen dalam mencapai nol emisi, maka perubahan tersebut tetap dilakukan.


“Contoh dukungan kami lainnya adalah dukungan terhadap manajemen persampahan melalui 15 fasilitas TPST/TPS3R di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jakarta, serta bermitra dengan 26 pelapak dan pendaur ulang di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Salah satu target kami adalah melalui plastic neutrality mengumpulkan sampah plastik, termasuk bukan kemasan milik Nestlé, sebesar dengan jumlah plastik yang kami gunakan tahun ini,” jelas Ganesan.


Kata Ganesan, emisi terbesar berasal dari bahan baku yang digunakan PT Nestlé Indonesia dari pertanian. Karena itu, PT Nestlé bergotong royong dalam skala besar bersama seluruh mitra petani untuk melakukan pertanian regeneratif, yaitu bukan hanya melindungi, tetapi juga membantu memperbaharui dan memperbaiki lingkungan kita beroperasi. Di saat bersamaan juga meningkatkan kehidupan (living income) petani.


“Sebagai contoh salah satu solusi yang kami lakukan bersama 26.000 peternak sapi perah di Jawa Timur. Limbah ternak kami olah dalam biogas digester untuk menjaga lingkungan dan bagi petani bisa digunakan sebagai sumber energi untuk memasak. Lebih dari 8.000 biogas digester yang sudah dibangun dan digunakan petani. Bersama petani kopi di Tanggamus, Lampung. Menanam 1 juta pohon untuk menyerap lebih banyak lagi emisi,” jelas Ganesan.


Selain berkolaborasi dengan para petani, PT Nestlé Indonesia juga mendukung terjadinya kolaborasi semisal dengan PLN. Kata Ganesan, PT Nestlé Indonesia akan melakukan investasi untuk penggunaan solar panel di seluruh pabrik untuk mendukung PLN menciptakan green energy.


PT PLN mendukung upaya industri dalam rangka penggunaan energi hijau. Executive Vice President (EVP) Perencanaan Sistem Ketenagaklistrikan PLN, Edwin Nugraha Putra berharap, sektor industri ikut terlibat untuk membantu ataupun menyerap energi hijau yang telah disiapkan PLN.


Dia menegaskan, PLN tetap berkomitmen membangun pembangkit listrik energi baru terbarukan. Sekalipun saat ini PLN sedang mengalami over suplai listrik.


PLN mencatat, dalam beberapa tahun mendatang suplai listrik akan terus bertambah, melalui mega proyek 35.000 Mega Watt (MW) yang masih terus berjalan. Hal ini akan menambah over suplai listrik di sejumlah wilayah seperti Pulau Jawa, Bali dan Sumatera.


"Misalnya dengan Pupuk Indonesia, kita sudah memetakan tempat-tempat yang memungkinkan kita alirkan energi hijau. Ini sedang kita letakan dan sekarang sedang berproses untuk melihat lebih jauh bagaimana kemungkinan untuk suplai tersebut masuk ke tempat-tempat industri," kata Edwin.


Memastikan ketersediaan pasokan energi hijau juga sejalan dengan target PLN pada tahun 2025 yang diminta oleh pemerintah untuk mencapai 23 persen energi baru terbarukan. Pembangunan energi hijau tentu saja harus dikaitkan dengan kerja sama industri untuk memenuhi listriknya dari PLN.


"Perlunya offtaker, seperti pabrik pupuk, dan industri lainnya. Hal ini akan sangat membantu PLN di tengah kondisi over suplai pasokan listrik," ujarnya.


Di sisi lain, PLN berkomitmen mengatur untuk tidak memasukan energi fosil lagi ketika pertambahan beban terjadi. Dia memastikan bahwa PLN hanya menyelesaikam pembangunan 35.000 MW yang dimulai sejak tahun 2015.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait