Pengangguran Bertambah, Pemerintah Antisipasi Lonjakan Kriminalitas

Meningkatnya angka pengangguran perlu diantisipasi agar dampaknya tidak menimbulkan konflik sosial dan keamanan.
Dimas Jarot Bayu
16 April 2020, 16:18
Pengangguran Bertambah, Pemerintah Antisipasi Lonjakan Kriminalitas.
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
ilustrasi personel Korps Brimob bersiap mengikuti Apel Gelar Malam Tahun Baru 2020 di kawasan Monas, Jakarta. Pemerintah mengantisipasi ancaman stabilitas keamanan seiring dan melonjaknya angka kriminalitas di Indonesia.

Pemerintah melalui Kantor Staf Presiden (KSP) mengantisipasi ancaman stabilitas keamanan seiring dan melonjaknya angka kriminalitas di Indonesia. Antisipasi ini dilakukan seiring dengan perkiraan meningkatnya angka pengangguran akibat pandemi corona.

"Isu keamanan termasuk hal yang KSP pantau. Meningkatnya angka pengangguran, perlu diantisipasi agar dampaknya tidak menimbulkan konflik sosial dan keamanan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Deputi V KSP Jaleswari Pramodhawardani dalam rapat koordinasi dengan Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Polri di kantornya, Jakarta, Rabu (15/4).

(Baca: Ekonomi di Tengah Pandemi, Apakah Akan Terjadi Lagi Depresi Besar?)

Kepala Baintelkam Polri Brigjen (Pol) Umar Effendi membenarkan adanya risiko tindakan kriminal yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan. Oleh sebab itu, pihaknya sudah berkoordinasi hingga tingkat Polsek untuk terus melakukan pengawasan dan pembinaan.

Umar memastikan akan menggunakan pendekatan preventif dan persuasif dalam mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban di masyarakat. "Kami juga berupaya membantu pemerintah mengawal distribusi program jaringan pengaman sosial bagi masyarakat terdampak Covid-19,”katanya.

Advertisement



Sekadar informasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya menyebut dampak corona akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan jika kondisi pandemi terus memburuk, diperkirakan perekonomian Indonesia bisa mengalami kontraksi atau tumbuh negatif.

"Base line kita di 5,3% akan mengalami tekanan, turun pertumbuhannya sampai di level 2,3%. Bahkan di situasi sangat berat mungkin juga menurun sampai negative growth," kata Menteri Keuangan usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna melalui video conference, Selasa (14/4).

(Baca: Pemerintah Catat 1,65 Juta Pekerja Terkena PHK Akibat Pandemi Corona)

Sri Mulyani mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi akan terjadi pada kuartal kedua 2020. Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat hingga hanya sebesar 0,3%, bahkan berpotensi terkontraksi atau minus 2,6%.

Pada kuartal ketiga 2020 akan ada pemulihan pertumbuhan ekonomi menjadi 1,5% hingga 2,8%. "Kalau kita kondisinya akan berat cukup panjang kemungkinan akan terjadi resesi di mana dua kuartal berturut-turut Indonesia PDB-nya bisa negatif. Ini yang sedang kita upayakan untuk tidak terjadi," ujarnya. 

Melemahnya pertumbuhan ekonomi karena wabah corona juga akan berdampak pada bidang sosial dan pembangunan Indonesia. Dia memperkirakan akan ada tambahan 1,1 juta  warga miskin di Indonesia. Dalam skenario yang lebih berat, dia memproyeksikan ada tambahan 3,78 juta orang miskin di Indonesia.

Sementara itu, Sri Mulyani memperkirakan jumlah pengangguran di Indonesia bakal bertambah 2,9 juta orang akibat wabah Covid-19. "Dalam skenario lebih berat bisa sampai 5,2 juta," katanya. 

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait