Buntut Konflik Perbatasan, India Kembali Blokir 47 Aplikasi Tiongkok

Pemerintah India mengatakan, pemblokiran aplikasi ini dilakukan dengan alasan keamanan serta gangguan privasi pengguna.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
28 Juli 2020, 09:37
Buntut Konflik Perbatasan, India Kembali Blokir 47 Aplikasi Tiongkok.
Katadata/Agustiyanti
Ilustrasi aplikasi asal Tiongkok WeChat. India menambah daftar blokir aplikasi asal Tiongkok.

Pemerintah India menambah 47 aplikasi asal Tiongkok yang dilarang digunakan di negara tersebut. Jumlah ini menambah daftar panjang layanan digital Tiongkok yang diblokir Negeri Bollywod setelah ada 59 aplikasi, termasuk TikTok dan WeChat.

Pemerintah India mengatakan, pemblokiran aplikasi ini dilakukan dengan alasan keamanan serta gangguan privasi pengguna. Namun, banyak pihak menilai, pembatasan ini tak lepas dari adanya konflik perbatasan kedua negara.

Mengutip Times of India, beberapa aplikasi asal Tiongkok yang dilarang itu diantaranya Cam Scanner Advance, Tiktok Lite, Helo Lite, SHAREit Lite, BIGO LIVE Lite dan VFY Lite.

Pekan lalu, pemerintah India telah memeriksa daftar 275 aplikasi asal Tiongkok. Dari ratusan aplikasi itu lalu disaring dan dimasukkan ke dalam daftar aplikasi yang dilarang. 

"Pemerintah dapat melarang semua, beberapa, atau yang tidak ada dari daftar," ujar otoritas Indua dikutip dari The Economic Times pada Senin (27/7).

Dari 275 aplikasi itu terdapat gim populer PUBG yang dikembangkan oleh Tencent, aplikasi Zili yang dikembangkan produsen ponsel asal Tiongkok Xiaomi. Kemudian, ada AliExpress yang dikembangkan perusahaan e-commerce Alibaba, serta aplikasi Resso dan ULike yang dikembangkan oleh ByteDance.

"Beberapanya  telah ditandai karena alasan keamanan, ada juga yang telah terdaftar karena pelanggaran berbagi data dan masalah privasi," kata seorang pejabat India.  

Kebijakan pelarangan aplikasi awalnya ditengarai oleh insiden bentrokan antara pasukan kedua negara di perbatasan Himalaya. Akan tetapi, kementerian teknologi India membantah pemblokiran tersebut bukan terkait bentrokan.

"Aplikasi-aplikasi itu merugikan kedaulatan dan integritas, pertahanan, keamanan negara dan ketertiban umum," kata kementerian dikutip dari Reuters, bulan lalu (30/6).

Akibat larangan itu, sejumlah aplikasi dari startup asal India kemudian bergegas mengisi kekosongan. Misalnya, aplikasi berbagi video Roposo dan media sosial Sharechat yang didukung Twitter, keduanya telah mengumpulkan jutaan pengguna baru bulan ini.

Namun riset dari perusahaan konsultan Kantar mengungkapkan, penerima keuntungan terbesar akibat larangan aplikasi asal Tiongkok di India adalah Facebook. 

Kantar memperkirakan bahwa aplikasi Facebook dan Instagram yang meluncurkan fitur Reels sebagai pesaing TikTok telah mengalami lonjakan pengguna hingga 30% di India bulan ini.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait