Indonesia Kehilangan 18 Juta Hektare Hutan Alam Selama 3 Dekade

Image title
26 Agustus 2025, 14:03
Indonesia, hutan, hutan alam, alih fungsi hutan
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.
Foto udara kebakaran lahan di Bukit Panjang, Nagari Taram, Limapuluhkota, Sumatera Barat, Selasa (10/6/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menurut data terbaru yang dikumpulkan Auriga Nusantara, Indonesia telah kehilangan sekitar 18 juta hektare hutan alam dalam kurun waktu lebih dari tiga dekade terakhir, yaitu periode 1990 hingga 2024.

"Fakta secara umum menunjukkan dari tiga dekade terakhir atau 35 tahun terakhir kita telah kehilangan 18 juta formasi hutan alam," kata Peneliti Auriga Nusantara, Dedy Sukmara, dalam acara Launching MapBiomas Landy Indonesia Koleksi 4.0, Selasa (26/8).

Dedy menjelaskan saat ini wilayah hutan alam Indonesia hanya tersisa sekitar 68%. Sementara itu, 26% lainnya telah beralih menjadi lahan pertanian.

Hutan Rawa Gambut Susut Paling Banyak

Hitung-hitungannya, dari total kehilangan, 10 juta hektare berasal dari formasi hutan alam non-gambut dan non-mangrove, yang menjadi porsi terbesar dari deforestasi di Indonesia.

Visualisasi data Mapbiomas Indonesia menunjukkan rincian kehilangan formasi hutan alam yang berkurang 10,2 juta hektare atau setara 10,1%. Selanjutnya, hutan rawa gambut yang menyusut 7,7 juta hektare atau sekitar 42%.

Juga terdapat mangrove yang kehilangan 0,2 juta hektare atau berkisar 6,5%, terakhir ada sungai dan danau yang berkurang 0,11 juta hektare atau 4,6%.

“Dari jumlah tersebut (18 juta hektare), 10 juta hektare adalah formasi hutan non-gambut dan non-mangrove. Namun jika dilihat dari persentase, kehilangan terbesar justru terjadi pada hutan rawa gambut, yang menyusut hingga 42%," ungkap Dedy.

Menurutnya, kehilangan ekosistem gambut merupakan ancaman serius karena kawasan tersebut tidak hanya menjadi penyimpan karbon penting, tetapi juga menopang biodiversitas dan kehidupan masyarakat lokal.

"Ini sangat mengkhawatirkan, karena kita tahu fungsi dari gambut ini sangat penting tidak hanya bagi biodiversitas, tapi bagi masyarakat sekitar ekosistem gambut itu sendiri," imbuhnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...