Menteri LH Sebut Praktik Perusahaan Air Minum Belum Berkelanjutan

Image title
29 Agustus 2025, 10:59
Warga mengisi galon dengan air di Gunung Batur, Kota Cilegon, Banten, Selasa (29/7/2025). Warga setempat kesulitan mendapatkan air bersih sejak sepekan terakhir karena musim kemarau sehingga terpaksa berjalan kaki sekitar satu kilometer dari permukiman ka
ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/nym.
Warga mengisi galon dengan air di Gunung Batur, Kota Cilegon, Banten, Selasa (29/7/2025). Warga setempat kesulitan mendapatkan air bersih sejak sepekan terakhir karena musim kemarau sehingga terpaksa berjalan kaki sekitar satu kilometer dari permukiman kampung untuk mendapatkan sumber mata air di Gunung Batur guna memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengkritik praktik eksploitasi air tanah secara berlebihan yang dilakukan oleh perusahaan air minum di Indonesia.

Hanif mengatakan meskipun banyak merek mengklaim produknya berasal dari "air pegunungan", kenyataannya hampir seluruh air kemasan yang beredar masih menggunakan air tanah. Ia mengingatkan agar publik tidak mudah terpedaya oleh label dan kemasan yang mengesankan air alami dari permukaan atau pegunungan.

Hanif juga menyebut belum ada satu pun perusahaan air minum di Indonesia yang benar-benar menggunakan air permukaan secara berkelanjutan. Hanif juga menyoroti eksploitasi air tanah secara besar-besaran, yang menurutnya tidak berkelanjutan dan sangat merugikan lingkungan.

“Coba sebutkan perusahaan air minum internasional di Indonesia, semuanya masih pakai air tanah,” tegasnya.

Ia menyatakan air tanah sangat sulit untuk dipulihkan, dan membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk kembali mengisi cadangan yang telah diambil. Dalam konteks ini, Hanif menyayangkan bahwa konservasi masih sebatas jargon yang digaungkan tanpa aksi nyata dari korporasi. Padahal, menurutnya, konservasi harus menjadi bagian dari strategi investasi jangka panjang, terutama bagi sektor yang mengandalkan sumber daya alam langsung seperti air.

“Air tanah enggak bisa kembali. Bahkan boleh kita katakan tidak kembali. Seumur kita, kita mati 50 kali juga air tanah belum sampai Jakarta,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...