Kementerian Lingkungan Hidup Soroti Tiga Masalah Penyebab Banjir Bali

Ajeng Dwita Ayuningtyas
11 September 2025, 15:32
banjir Bali, cuaca ekstrem
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym.
Petugas mengevakuasi wisatawan mancanegara yang terjebak banjir di kawasan Kuta, Badung, Bali, Rabu (10/9/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH), Ade Palguna Ruteka, menyoroti tiga persoalan yang menyebabkan banjir Bali

Salah satu penyebab  banjir Bali adalah curah hujan tinggi yang sedang melanda wilayah tersebut. Selain itu, Ade melihat adanya pengaruh perilaku masyarakat dan kegagalan infrastruktur untuk mengantisipasi bencana alam ini. 

“Masalahnya, memang masyarakat kita tidak terbiasa untuk memilah sampah. Kemudian, Bali tidak punya saluran air,” kata Ade, saat ditemui usai menyampaikan pidato kunci di acara Katadata SAFE 2025, di Jakarta, Kamis (11/9).

Menurut Ade, Pemerintah Daerah Bali telah berupaya menanggulangi persoalan sampah, di antaranya dengan membatasi sampah yang masuk ke  Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung. “Itu bermasalah karena memang ini masalah kultur, ya,” kata Ade.

Ia menambahkan, perlu waktu untuk memunculkan budaya pilah sampah di masyarakat. Oleh karena itu, kebiasaan ini harus didorong mulai saat ini. Rencananya, Ade bersama Tim KLH/BPLH akan meninjau langsung banjir di Bali pada Kamis (11/9) malam. 

Sementara itu, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, menjelaskan adanya gelombang ekuatorial Rossby yang memicu cuaca ekstrem.

“Aktifnya gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Bali dan sekitarnya mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan lebat,” kata Ketua Kelompok Kerja Operasional BBMKG Wilayah III Denpasar, Wayan Musteana, Rabu (10/9), dikutip dari Antara.

Banjir Besar Landa Bali

Sejumlah daerah di Provinsi Bali terendam banjir sejak Rabu (10/9) dini hari, setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras mulai Selasa (9/9). Banjir kali ini menjadi yang terparah dalam satu dekade.

Setidaknya ada enam wilayah yang telah terendam banjir, yaitu Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Badung, Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Tabanan.

Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, per Kamis (11/9) pukul 11.00 WIB, sudah ada 14 korban meninggal dunia dan dua orang lainnya masih dalam pencarian. 

Rincian korban meninggal: delapan orang di Kota Denpasar, dua orang di Kabupaten Jembrana, tiga orang di Kabupaten Gianyar, dan satu orang di Kabupaten Badung. Dua orang hilang tercatat berasal dari Kota Denpasar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali juga mencatat, sebanyak 562 warga masih mengungsi hingga kini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...