Dinkes Jakarta: Mikroplastik Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

Ajeng Dwita Ayuningtyas
24 Oktober 2025, 15:23
Sejumlah aktivis lingkungan melakukan aksi di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (4/8/2023). Aksi yang dilakukan komunitas lingkungan Environmental Green Society bersama Ecoton Foundation, Forum Kali Brantas Kediri dan Capy Brantas Universitas Brawijaya itu sal
ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nym.
Sejumlah aktivis lingkungan melakukan aksi di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (4/8/2023). Aksi yang dilakukan komunitas lingkungan Environmental Green Society bersama Ecoton Foundation, Forum Kali Brantas Kediri dan Capy Brantas Universitas Brawijaya itu salah satunya meminta pemerintah provinsi setempat mendorong industri dan perusahaan untuk membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dapat melakukan penyaringan partikel mikroplastik yang terbuang bersama limbah cair.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketua Subkelompok Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono menjelaskan, bahan kimia beracun dalam mikroplastik dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit. 

“Jadi bukan serta-merta mikroplastik ini menjadi agen tunggal penyakit ya, mikroplastik ini juga menjadi faktor risiko tambahan,” kata Pramono, saat konferensi pers di Komplek Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (24/10).

Pramono mencontohkan, mikroplastik dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke ketika mengontaminasi orang dengan diabetes melitus, hipertensi, atau perokok.

Ukurannya yang kecil rentan masuk ke saluran pernapasan, saluran pencernaan, hingga masuk ke pembuluh darah. Sumber paparannya bisa melalui udara, maupun makanan dan minuman yang masuk ke tubuh. Ketika masuk ke saluran pernapasan, mikroplastik juga bisa meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

“Efeknya memang tidak langsung. Dia butuh waktu panjang, bisa bertahun-tahun dan puluhan tahun bahkan,” tambahnya. 

Oleh karena itu, cemaran mikroplastik pada air hujan ini tidak langsung memberi dampak negatif ketika seseorang kehujanan. 

Pramono juga menambahkan, masyarakat tak perlu terlalu khawatir. Tubuh manusia memiliki sistem kekebalan tubuh yang dapat membantu menghindari risiko-risiko tersebut. Mikroplastik ini di antaranya bisa keluar dari tubuh melalui refleks batuk atau bersin. 

Perlu Pola Hidup Sehat

Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova, menjelaskan sumber paparan mikroplastik bisa muncul dari pakaian. 

“Pakaian yang kita gunakan sebagian besar sekarang adalah polyester, nilon, atau polimer sintetis. Bukan katun misalnya, jadi memang tidak asli natural fiber,” jelas Reza.

Paparan juga bisa berasal dari serpihan ban kendaraan, hingga pembakaran sampah plastik secara terbuka. 

Mikroplastik yang menyebar di lingkungan, tidak hanya berada di luar ruangan, melainkan juga berada dalam ruangan. Oleh karena itu, pembersihan hunian secara rutin dapat membantu pengurangan risiko paparan ini. 

“Masyarakat harus memperhatikan debu-debu di dalam rumahnya, karena debu di dalam rumah juga mengandung mikroplastik,” tambah Pramono. 

Selain itu, pada cuaca yang cukup panas, masyarakat direkomendasikan untuk menggunakan masker. Untuk tindakan preventif, masyarakat perlu mengurangi penggunaan plastik dan menghindari pembakaran sampah plastik secara terbuka.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas
Editor: Reza Pahlevi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...