Peneliti BRIN: Pengolahan Sampah Jadi Energi Bukan Solusi Jangka Panjang

Image title
5 November 2025, 14:48
Petugas membawa sampah residu untuk dimasukan ke dalam mesin insinerator di kawasan permukiman Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/10/2025). Pemerintah Kota Bandung mulai memperketat penggunaan mesin insinerator setelah kebijakan Kementerian Lingkung
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr
Petugas membawa sampah residu untuk dimasukan ke dalam mesin insinerator di kawasan permukiman Tamansari, Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/10/2025). Pemerintah Kota Bandung mulai memperketat penggunaan mesin insinerator setelah kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup yang akan melarang alat pembakaran sampah tersebut karena menimbulkan polusi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Teknologi waste to energy (WTE) dinilai belum bisa menjadi solusi jangka panjang persoalan sampah di Indonesia.

Profesor Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Muhammad Reza Cordova mengatakan penerapan WTE saat ini hanya efektif sebagai strategi jangka pendek untuk menahan kebocoran sampah, terutama sampah plastik, agar tidak mencemari laut. 

Ia menjelaskan bahwa teknologi seperti WTE, refuse-derived fuel (RDF), maupun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah yang sudah terlanjur menumpuk. Namun, meski teknologi tersebut dilengkapi sistem pengendali emisi agar tidak mencemari lingkungan, pendekatan ini tetap belum menyentuh akar persoalan.

“Teknologi ini memang bisa membantu, tapi sifatnya sementara. Solusi jangka panjangnya harus dimulai dari sumber sampah itu sendiri,” katanya, Rabu (5/11).

Reza menekankan langkah paling efektif untuk mengurangi sampah adalah mengendalikan dari sumber, bukan semata-mata bergantung pada teknologi pengolahan. Ia mencontohkan sekitar 70% sampah plastik yang ditemukan di laut, pantai, dan daerah aliran sungai merupakan plastik sekali pakai, seperti kantong kresek, sachet, botol, gelas, label, dan puntung rokok. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan plastik menjadi kunci utama.

Selain itu, pemilahan sampah sejak awal juga penting untuk diterapkan. Berdasarkan data BRIN, lebih dari 60% sampah di Indonesia merupakan sampah organik, di mana sekitar 30% di antaranya adalah sisa makanan. Namun, praktik pemilahan di tingkat rumah tangga masih jarang dilakukan.

“Kalau pemilahan sudah berjalan, ditambah dukungan teknologi, seharusnya sampah bisa dikelola dengan baik dan tidak bocor ke lingkungan,” jelasnya.

Meskipun teknologi pengolahan sampah terus berkembang, Reza mengakui Indonesia masih menghadapi tantangan besar dari sisi ketersediaan teknologi dan biaya operasional.

“Teknologi kita masih cukup tertinggal dan relatif mahal untuk diterapkan secara luas. Karena itu, kita perlu bekerja sama dengan berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mengembangkan solusi yang efisien dan berkelanjutan,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...