BRIN Kembangkan Teknologi Hasilkan Kandidat Bahan Terapi Kanker dari Sampah PET
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolahan sampah plastik polietilena tereftalat (PET) yang membuka peluang pemanfaatan turunannya sebagai bahan pendukung terapi kanker.
“Ini tidak hanya berkontribusi pada penguatan ekonomi sirkular, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan senyawa turunannya sebagai kandidat bahan pendukung terapi kanker,” tulis BRIN dalam pernyataan resminya, dikutip Jumat (23/1).
Peneliti Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, Betty Alfirizky Kustiana, menjelaskan PET merupakan jenis polimer yang sangat luas penggunaannya. Bahan ini umum dipakai untuk kemasan minuman, tekstil, papan sirkuit elektronik, hingga film pencitraan sinar-X.
Namun, tingginya konsumsi PET berbanding lurus dengan penumpukan limbah plastik yang sulit terurai secara alami dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.
“Untuk menjawab tantangan tersebut, salah satu pendekatan yang kini berkembang pesat adalah daur ulang kimia melalui proses depolimerisasi, yakni pemutusan rantai polimer menjadi monomer secara kimia,” kata Betty.
Data menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 66 juta ton sampah per tahun, dengan 17,43 persen di antaranya berupa sampah plastik. PET menjadi salah satu kontributor utama, terutama dari kemasan minuman dan produk konsumen.
Betty menyebut inovasi yang dikembangkan BRIN memungkinkan PET diolah kembali menjadi senyawa bernilai tinggi. Senyawa hasil proses ini tidak hanya dapat dipolimerisasi ulang, tetapi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih spesifik.
Dalam risetnya, Betty menyoroti pemanfaatan struktur tereftalat hasil depolimerisasi PET sebagai kerangka dasar pengembangan senyawa antikanker.
“Struktur ini telah banyak digunakan dalam berbagai obat komersial maupun kandidat obat yang masih berada pada tahap uji pra-klinis dan klinis, seperti tucidinostat untuk limfoma sel T, entinostat untuk kanker payudara, serta diprovocim yang sedang dikaji untuk leukemia,” ujarnya.
Hingga kini, tim peneliti BRIN telah berhasil mensintesis tiga senyawa utama, yakni 1′-terephthaloylbisimidazole, asam tereftalat, dan dimetil tereftalat. Ketiganya diperoleh dengan rendemen lebih dari 80 persen pada skala laboratorium, meski optimasi metode masih terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi proses.
“Ke depan, riset ini akan dilanjutkan ke tahap scale-up dengan kapasitas bahan baku PET yang lebih besar untuk menguji konsistensi proses dan potensi penerapannya secara lebih luas. Pendekatan ini sekaligus memperkuat konsep ekonomi sirkular dengan mempertahankan nilai material dalam siklus pemanfaatan yang lebih panjang dan bernilai tambah tinggi,” kata Betty.
