Api Karhutla Riau Tersisa di Dua Titik, Potensi Titik Panas Baru Dipantau
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area Riau mulai mereda setelah meradang sejak awal 2026. Kini tersisa dua titik pemadaman di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Karhutla di kedua lokasi sempat padam, namun kembali menyala karena cuaca terik.
“Kemarin karena angin besar dan cuaca panas, jadi menyala dan merembet lagi,” kata Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra Ferdian Krisnanto kepada Katadata, pada Rabu (4/3).
Satu regu pemadam tambahan dikerahkan hari ini menuju Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, untuk menuntaskan pemadaman api.
Menurut keterangan petugas, karhutla di Bengkalis tepatnya terjadi di Desa Sukarjo Mesim, Kecamatan Rupat. Luas lahan yang terbakar kurang lebih 50 hektare dengan status kawasan hutan produksi terbatas (HPT).
Sementara itu, karhutla di Kabupaten Pelalawan khususnya terjadi di Desa Gambut Mutiara, Kecamatan Teluk Meranti. Luasnya sekitar 68,3 hektare dengan status lahan area penggunaan lain (APL).
“Kami terus berupaya menuntaskan dua lokasi ini, mumpung ada potensi hujan juga,” ucap Ferdian.
Meski begitu, Ferdian berkata pihaknya tetap melakukan patroli dan deteksi potensi kebakaran berdasarkan titik panas, mengingat cuaca Riau yang sangat dinamis belakangan ini.
Kebakaran Dipicu Pembukaan Lahan, Siapa yang Tanggung Jawab?
Pada 12 Februari lalu, titik panas atau hotspot di Provinsi Riau tercatat hingga 279 titik. Sekitar 745,5 hektare area hutan dan lahan di provinsi itu terselimuti api hingga Jumat (13/2) pagi.
Kebakaran terjadi di wilayah Kabupaten Kampar, Kota Dumai, Kabupaten Rohil, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Pelalawan. Area yang terbakar termasuk hutan produksi, area penggunaan lain (APL), hingga hutan lindung.
Bila merujuk pada area kebakaran, dugaan pun mencuat soal kebakaran yang disengaja. Ferdian lalu membenarkan sudah ada temuan di lapangan dan tengah didalami.
Dia menjelaskan, kebakaran paling luas terpantau berada di Desa Teluk Beringin, Kabupaten Pelalawan, yakni mencapai 565 hektare. Kebakaran awalnya terjadi di lahan berstatus APL, namun kemudian merembet ke wilayah lainnya. Indikasinya, pembakaran lahan untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.
“Awalnya ada masyarakat membersihkan lahan dengan membakar sisa-sisa tumpukan kayu, karena angin kencang (api) jadi tidak terkendali,” kata dia kepada Katadata, Jumat (13/2).
Menurut dia, rata-rata lokasi kebakaran berdekatan maupun di dalam area kebun sawit, milik masyarakat maupun perusahaan. “Ada beberapa yang di kebun dengan sawit-sawit muda, banyak juga di semak belukar yang kemungkinan dibakar untuk pembersihan. Ada juga di perbatasan hutan tanaman industri,” ujarnya.
Di Kabupaten Kampar, khususnya Desa Rimbo Panjang dan Desa Karya Indah, indikasinya juga sama yaitu kebakaran terkait pembukaan lahan untuk perumahan atau perkebunan. “Karena di samping-sampingnya sudah kavlingan,” ujarnya.
Terkait temuan ini, kata Ferdian, pihak kepolisian setempat telah turun tangan ke beberapa titik karhutla. “Terakhir saat pemadaman di Rimbo Panjang, akhir pemadaman ada pihak kepolisian turun ke lokasi,” ucapnya.
Namun, belum bisa dipastikan siapa saja pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran ini. “Sepertinya masih dalam tahapan penyelidikan dan pengembangan kasus,” kata Ferdian.
