15 Finalis Adu Gagasan untuk Bumi Berkelanjutan di Grand Final PLN SustainAction
Sebanyak 15 kelompok finalis PLN SustainAction 2025 mempresentasikan ide-ide inovatif mereka di hadapan lima dewan juri dan puluhan penonton pada Senin, 20 Oktober 2025. Dalam waktu tujuh menit, masing-masing tim memaparkan solusi kreatifnya sebelum menghadapi sesi tanya jawab intens dengan para juri.
Kompetisi PLN SustainAction 2025 merupakan ajang adu gagasan yang digelar selama dua bulan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Program ini menantang akademisi dan masyarakat umum untuk menawarkan ide yang menjawab tantangan perubahan iklim, menjaga kelestarian lingkungan, serta mendorong pembangunan berkelanjutan. Setiap proposal dinilai tak hanya dari sisi inovasi, tapi juga dari manfaat sosial dan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat luas, termasuk kelompok rentan dan masyarakat adat.
Suasana grand final di kantor pusat PLN, Jakarta, berlangsung meriah. Para finalis tampil penuh semangat. Ada yang mengenakan pakaian adat, terdapat pula yang memakai jaket almamater kampus.
Salah satu momen menarik datang ketika Maria R. Nindita, Founder dan Presiden Direktur ISA sekaligus anggota Katadata Green Expert Panel, menantang salah satu finalis dengan pertanyaan kritis.
“Apa rencana Anda dalam mempertahankan sustainability yang diciptakan dalam program ini? Sebab perusahaan nggak mau terus-terusan mengucurkan pendanaannya,” Maria bertanya kepada kelompok Rumah Papua dari Jayapura, yang mengusung ide pemanfaatan dan pengembangan usaha kelapa ramah lingkungan (eco-friendly).
Tim Rumah Papua dalam kompetisi PLN SustainAction 2025 menyoroti kondisi Kampung Fanjur, Kabupaten Supiori, Papua, daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) yang terisolasi. Untuk menikmati semangkuk bakso saja, warga harus menyeberang laut ke ibu kota kabupaten. Menuju Jayapura, ibu kota provinsi, butuh perjalanan 1,5 jam dengan pesawat atau sehari penuh lewat jalur laut.
Menurut Hans Mnusefer, anggota tim Rumah Papua, wilayah ini sebenarnya kaya sumber daya alam, tapi belum termanfaatkan optimal. “Papua kaya, tapi warganya belum berdaya,” ujarnya.
Data BPS 2025 menunjukkan, tingkat kemiskinan di Kabupaten Supiori masih mencapai 42,56%, salah satu yang tertinggi di Indonesia Timur. Kampung Fanjur yang masuk dalam wilayah Kabupaten Supiori, memiliki lahan pertanian yang luas, tetapi pendapatan petaninya sangat rendah. Di wilayah tersebut terdapat 1.444 hektare (ha) kebun kelapa di kabupaten Supiori dengan produktivitas 0,48 ton kelapa per ha per tahun.
Kemiskinan akut dan luasnya perkebunan kelapa di Kampung Fanjur, telah mendorong Hans dan tim di Rumah Papua memutar otak hingga tercetus ide mengembangkan minyak kelapa, PCO, dan briket tempurung kelapa yang eco-friendly. Hans dan rekannya di Rumah Papua menargetkan warga binaan di Kampung Fanjur harus bisa mandiri memanfaatkan kelapa secara eco-friendly dalam tempo satu tahun.
“Kami akan melakukan transfer ilmu ke masyarakat, memberikan pendampingan, bahkan akan tinggal dengan warga binaan 6-9 bulan sampai izin PIRT (pangan izin rumah tangga) terbit,” ujar Hans menimpali pertanyaan juri.
Bersama rekannya Diva Regita Cahyani Girsang dan anggota lainnya, Hans ingin mendorong kemandirian ekonomi warga Fanjur. Kelapa punya banyak manfaat, tapi limbahnya masih belum dimanfaatkan masyarakat sekitar. Salah satu limbah kelapa adalah tempurung atau batok kelapa yang dapat dimanfaatkan sebagai briket bahan bakar.
Contohnya lainnya, yakni pemanfaatan sebagai minyak kelapa yang diharapkan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat Kampung Fanjur. Selain meningkatkan nilai tambah produk kelapa, program ini juga memperkuat peran perempuan karena mereka terlibat langsung dalam proses produksi dan sistem pemasaran minyak kelapa.
“Ini (ide) bisa menjadi roda penggerak. Kami ingin Papua lebih baik lagi dari hari ini,” kata Hans disambut tepuk tangan penonton.
Kompetisi PLN SustainAction 2025 ini kali kedua yang digelar PLN dalam dua tahun terakhir. Perlombaan ini dibagi dalam tiga kategori, yakni inovasi solusi perubahan iklim, sustainable village, dan ecopreneur. Total ada lebih dari 2.000 proposal yang masuk mendaftar dalam kompetisi ini.
EVP Komunikasi Korporat dan TJSL PT PLN Gregorius Adi mengatakan, kompetisi ini adalah ajang adu gagasan. Ide yang dipaparkan oleh para finalis ada yang memang bisa langsung diaplikasikan di tengah masyarakat oleh kelompok entrepreneur, LSM atau kelompok yang mengandalkan atau berinovasi dengan teknologi. Kalau memang ide-ide para finalis ini membawa dampak signifikan, feasible atau sudah teruji, PLN berpotensi akan merealisasikannya.
