Kembangkan Bisnis, SUN Energy Bidik Sektor Industri pada 2026
SUN Energy akan memperkuat solusi keberlanjutan bagi sektor industri untuk mengembangkan bisnis perusahaan tahun ini. Beberapa lini bisnis yang akan menjadi fokus perusahaan antara lain mencakup implementasi Containerized Battery Energy Storage (CBESS), sistem energi terintegrasi, dan independent power producer (IPP).
CEO SUN Energy Emmanuel Jefferson Kuesar mengungkapkan beberapa lini bisnis yang akan perusahaan kejar di tahun ini. Pertama, implementasi Containerized Battery Energy Storage System (CBESS). Emmanuel mengatakan pada tahun lalu perusahaan berhasil mengimplementasikan CBESS di sektor pertambangan.
“Proyek ini menjadi implementasi CBESS pertama di Indonesia, sekaligus menandai perluasan solusi perusahaan dari pembangkitan energi surya menuju sistem energi terintegrasi yang mampu menjawab kebutuhan operasional industri dengan karakteristik beban tinggi dan fluktuatif,” kata Emmanuel dalam pernyataan resmi, Selasa (6/1).
Penerapan containerized BESS ini memungkinkan optimalisasi pemanfaatan energi terbarukan, peningkatan keandalan pasokan listrik, serta pengurangan ketergantungan terhadap sumber energi fosil di area operasional tambang.
Menurutnya, hal ini membuka peluang replikasi solusi serupa pada sektor-sektor lain dengan kebutuhan energi kritikal, seperti manufaktur berat, smelter, hingga kawasan industri terpadu berskala besar.
“Memasuki 2026, fokus kami tidak hanya pada proyek energi surya, tetapi juga pada pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti BESS, khususnya untuk sektor industri dengan kebutuhan energi tinggi seperti pertambangan, manufaktur berat, serta sektor-sektor potensial lainnya,” kata Emmanuel.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas ekosistem akan semakin diperluas. SUN Energy akan membuka kerja sama dengan kawasan industri untuk membangun sistem energi terintegrasi, termasuk integrasi dengan elektrifikasi armada kendaraan operasional dan infrastruktur kendaraan listrik.
Kembangkan Proyek Energi Surya Skala Besar
Pada tahun ini, SUN Energy juga akan melanjutkan penguatan peran di sektor industri sekaligus memperluas keterlibatan di segmen Independent Power Producer (IPP) guna mendukung pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar.
“Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kontribusi terhadap bauran energi nasional serta memperluas jangkauan solusi energi surya,” ujarnya.
Sejalan dengan perluasan segmen tersebut, SUN Energy juga memperkuat ekosistem bisnis melalui integrasi SUN Mobility sebagai solusi elektrifikasi transportasi dan infrastruktur kendaraan listrik, serta SUN Terra yang berfokus pada pengelolaan dan optimalisasi sistem energi surya.
“Integrasi ini dirancang untuk menghadirkan solusi keberlanjutan yang mencakup energi, mobilitas, dan pengelolaan sumber daya secara terpadu, sehingga dapat mendukung agenda dekarbonisasi industri secara lebih menyeluruh,” imbuhnya.
Sulitnya Upaya Penurunan Emisi
Meski memiliki langkah yang ambisius di tahun ini, Emmanuel melihat upaya penurunan emisi masih sulit dikelola dalam jangka panjang.
Beberapa faktor seperti pemasangan sistem energi bersih yang belum terintegrasi antarlokasi produksi, keterbatasan pemantauan data energi secara terpusat, serta kompleksitas operasional di perusahaan dengan banyak site membuat upaya penurunan emisi tidak mudah.
“Kondisi tersebut mendorong SUN Energy untuk mengembangkan pendekatan yang lebih terstruktur,” kata dia.
Meski begitu perusahaan melihat adopsi energi terbarukan di sektor industri terus menunjukkan tren pertumbuhan, tercermin dari data PLN yang mencatat jumlah pelanggan PLTS Atap mencapai 11.392 pelanggan dengan kapasitas terpasang sekitar 772,9 MW.
“Ini menunjukkan berbagai inisiatif dekarbonisasi masih kerap dijalankan secara terpisah di tingkat fasilitas perusahaan,” ujarnya.
Hingga kini SUN Energy telah mengoperasikan proyek energi surya sebesar 420 MW di empat negara, menghasilkan lebih dari 650 juta kWh listrik bersih, serta berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon hingga 506 juta kg CO2e, setara dengan penanaman 5,9 juta pohon per tahun.
Di Indonesia, SUN Energy telah mengembangkan proyek PLTS sektor industri dengan kapasitas terpasang mencapai 240 MW.
Pertumbuhan terbesar tercatat pada sektor-sektor dengan intensitas energi tinggi seperti semen, FMCG (Fast Moving Consumer Goods), kertas, kemasan plastik, elektronik, dan komponen otomotif.
Secara geografis, pemanfaatan energi surya oleh pelanggan SUN Energy terkonsentrasi di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten sebagai pusat manufaktur nasional.
Tahun ini, SUN Energy berencana akan memperluas kolaborasi bersama dengan kawasan industri. Hingga kini, perusahaan telah memasang PLTS untuk lebih dari 20 tenant di tiga kawasan industri, yakni Karawang International Industrial City (KIIC), Greenland International Industrial Center (GIIC), serta Kawasan Industri Jababeka melalui kerja sama dengan Bekasi Power.
Total kapasitas terpasang di kawasan industri tersebut mencapai lebih dari 20 MW, dan melayani beragam sektor industri dan komersial.
