Ahli Nuklir AS Sebut Reaktor SMR Bisa Jadi Solusi Listrik Daerah Terpencil

Hari Widowati
23 Juni 2026, 20:16
nuklir, energi nuklir, AS
Katadata/Hari Widowati
Kedutaan besar Amerika Serikat (AS) menyelenggarakan diskusi panel "Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy" bersama Kelle Barfield, Nuclear Stakeholder Engagement Consultant dari AS; Rully Hidayatullah, Senior Researcher on Nuclear, the ASEAN Center for Energy (ACE); dan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ahli nuklir dari Amerika Serikat (AS) Kelle Barfield menyatakan teknologi reaktor nuklir kecil modular atau small modular reactor (SMR) bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah terpencil. AS sebagai negara yang telah memiliki pengalaman panjang dalam pemanfaatan energi nuklir, siap memberikan bantuan teknis, pelatihan, hingga pendanaan untuk proyek nuklir di Indonesia. 

"SMR menawarkan peluang karena ukurannya yang lebih kecil sehingga mudah ditempatkan di tempat yang terpencil, misalnya di lokasi yang membutuhkan energi intensif, seperti di pertambangan," kata Barfield, Nuclear Stakeholder Engagement Consultant dari AS, dalam diskusi panel "Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy" di @atamerica, Jakarta, Selasa (23/6).

Ia mengatakan SMR diproduksi di pabrik kemudian bisa diangkut dan dipasang di lokasi yang membutuhkan pasokan listrik dalam waktu singkat. SMR bisa digunakan untuk data center yang membutuhkan daya listrik satu hingga dua megawatt (MW). 

SMR juga digunakan oleh militer AS dalam program yang disebut sebagai Janice, di mana mereka menggunakan SMR yang memproduksi listrik sebesar 5 MW. Ada sembilan pangkalan militer AS yang menggunakan reaktor nuklir kecil semacam ini. 

Barfield juga menilai Kesepakatan Perdagangan Resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada 19 Februari 2026 di Washington DC, akan sangat penting bagi pengembangan energi nuklir di Indonesia. 

"Dengan adanya ART, US Nuclear Regulatory Comission akan mengeluarkan lisensi untuk desain-desain SMR yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan pengembang energi nuklir di AS. Ini akan mempercepat proses pengembangan energi nuklir di Indonesia karena desain dan proses SMR di AS bisa diterapkan untuk operasional di Indonesia," kata Barfield.

Ia menyatakan AS juga menawarkan sejumlah peluang bantuan teknis. Program pertama dari AS berfokus pada pendanaan infrastruktur dasar untuk penggunaan teknologi SMR secara bertanggung jawab. Lewat program ini, para ahli dari AS kan membantu Indonesia untuk memilih teknologi SMR yang cocok untuk aplikasi di Indonesia. 

"Ada sejumlah kategori lainnya di mana para ahli dari AS bekerja secara aktif dan dengan senang hati mereka akan mendukung pertumbuhan energi nuklir di Indonesia," ujarnya.

SMR Kurangi Faktor Risiko

Anggota Dewan Energi Nasional Sripeni Inten Cahyani mengatakan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025-2034 memasukkan energi nuklir dalam bauran energinya. Namun, kapasitasnya memang belum besar yakni hanya 2 x 250 MW atau total 500 MW. 

"Itu memang untuk mengakomodasi teknologi yang baru tadi, yakni SMR atau small modular reactor. Modular maksudnya sudah standar commissioning dan sebagainya itu ada di pabrik. Diharapkan itu bisa mengurangi faktor risiko, terhadap safety lebih bagus," ujar Inten.

Ia mengatakan teknologi SMR cocok dengan kebutuhan Indonesia di area-area pelosok, misalnya di Indonesia bagian Timur. Saat ini sejumlah teknologi SMR ada yang masih dalam tahap desain tetapi ada pula yang sudah masuk tahap groundbreaking (peletakan batu pertama). 

"Paling cepat itu kira-kira 2029 baru operasi. Sementara, Indonesia kalau mau mengadopsi teknologi baru harus yang sudah komersial, karena kita takut soal governance-nya," kata Inten.

Jika teknologi SMR itu belum komersial, pemerintah khawatir tidak ada pihak yang bersedia menanggung risiko jika terjadi kegagalan atau masalah pada SMR tersebut. 

"Kalau sudah komersial, sudah tahu ini terbukti bagus, operasi lancar tanpa ada masalah," ujarnya. 

Inten menyebut sejumlah negara, seperti Rusia, Cina, maupun AS masih dalam tahap pengembangan teknologi SMR. Ia menyatakan Indonesia sebagai negara yang menganut politik bebas aktif terbuka bekerja sama dengan banyak negara untuk pengembangan energi nuklir, baik AS, Rusia, maupun negara lainnya. 

Inten menyatakan AS sebagai negara yang cukup lama mengembangkan energi nuklir memiliki keunggulan karena teknologinya terus disempurnakan sehingga semakin bagus. "Dukungan dari Amerika kita dengar mereka menyiapkan dana grant (hibah) cukup besar untuk mendorong atau membantu Indonesia menyiapkan studi dan sebagainya untuk pengembangan energi nuklir ini," kata Inten. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...