IESR: Industri Hijau Berpeluang Buka 1,7 Juta Pekerjaan hingga 2045

Hari Widowati
23 Juli 2025, 11:14
IESR, industri hijau, ekonomi hijau
Vecteezy.com/Sujin Jetkasettakorn
Ilustrasi green jobs
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Institute for Essential Services Reform (IESR) menyatakan investasi di industri hijau berpotensi membuka lapangan kerja untuk 1,7 juta orang hingga 2045. Sektor industri hijau diprediksi memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar Rp 638 triliun pada tahun 2030.

Juniko Nur Pratama, Program Manager Dekorbonisasi Industri IESR, mengatakan potensi tersebut bisa diwujudkan apabila industri hijau mendapatkan nilai investasi memadai. Dengan demikian, industri hijau bisa memberikan kontribusi terhadap rata-rata pertumbuhan PDB setiap tahun sebesar 6,3% hingga 2045.

‎"Dengan investasi memadai industri hijau dapat mengakselerasi pertumbuhan," kata Juniko seperti dikutip Antara, Selasa (22/7).

Nilai investasi yang dibutuhkan industri hijau untuk mencapai Nationally Determined Contribution (NDC) pada 2030 sebesar US$ 285 miliar atau Rp 4,65 kuadriliun (kurs Rp 16.315/US$).

Saat ini, kebutuhan investasi tersebut sudah dialokasikan melalui sektor keuangan US$ 41,67 miliar atau Rp 680 triliun, dan US$ 96,90 miliar atau Rp 1,5 kuadriliun dari anggaran perubahan iklim pemerintah.

Alhasil, masih ada gap investasi sebesar US$ 146,43 miliar atau Rp 2,3 kuadriliun guna mencapai target tersebut.

Lima Pilar Menuju NZE

Juniko juga menyebut ada lima pilar dalam mewujudkan karbon bersih (net zero emissions/NZE) di sektor perindustrian, yakni dekarbonisasi ketenagalistrikan, subtitusi bahan bakar ramah lingkungan, peningkatan efisiensi energi, efisiensi sumber daya, serta teknologi ramah lingkungan dan penangkapan karbon (CCUS).

‎Menurut Peraturan Pemerintah (PP) 33 Tahun 2023, industri diharapkan dapat menghemat 5,28 MTOE pada tahun 2030. Perkembangannya hingga tahun‎ 2023, hanya 217 dari 450 industri yang telah melaporkan upaya manajemen energinya.

Menurut analisis IESR, beberapa industri di Indonesia telah memiliki intensitas‎ energi yang cukup baik dibanding‎ dengan rata-rata global. Namun, perlu upaya yang lebih ambisius untuk mencapai emisi nol bersih.

Menurut International Energy Agency (IEA), efisiensi energi dan intensitas energi harus meningkat dua kali lipat‎ dalam dekade ini, dari 2% pada 2022 menjadi lebih dari 4% per tahun hingga 2030. Target ini lebih tinggi dari skenario NZE pemerintah sebesar 1,8% per tahun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...