Manajer Program Sistem Transformasi Energi IESR, Deon Arinaldo, mengatakan percepatan transisi energi melalui adopsi masif energi terbarukan harus dibarengi dengan pensiun dini PLTU batu bara.
IESR memperkirakan bahwa setiap pekerjaan yang hilang di tambang batu bara atau PLTU akan tergantikan oleh tiga hingga lima pekerjaan baru di sektor energi terbarukan (green jobs).
IESR menyebut subsidi fosil harus dialihkan ke energi terbarukan, disertai pengadaan melalui lelang kompetitif dan transparan sebagaimana dilakukan India, untuk menekan harga listrik surya.
Menurut IESR, pemanfaatan panas bumi dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis karena berpotensi memangkas sepertiga hingga setengah dari biaya pembangkitan listrik.
Indonesia harus memperkuat kapasitas produksi komponen surya, baterai, dan kendaraan listrik dengan memanfaatkan kekayaan mineral sebagai fondasi industri masa depan.
Kajian International Energy Agency (IEA) menunjukkan seluruh PLTU di dunia seharusnya berhenti beroperasi secara bertahap hingga tahun 2040 agar sejalan dengan target net zero emission global.
Menurut CEO IESR Fabby Tumiwa, upaya menurunkan emisi dalam waktu sempit, akan memperbesar kebutuhan investasi. Pasalnya, semakin banyak upaya yang harus dilakukan dalam waktu terbatas.
Target transisi energi dan pertumbuhan ekonomi bukan dua hal terpisah karena bisa saling menguatkan satu dengan yang lain. Kerja sama erat dengan banyak pemain dibutuhkan.