Indonesia Jadi Tujuan Utama Investasi Hijau Cina, Fokus di Nikel dan Panel Surya

Ajeng Dwita Ayuningtyas
29 September 2025, 13:58
Foto udara cerobong asap kawasan industri pengolahan nikel PT Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI) di Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara, Kamis (4/9/2025). Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Kendari mencatat nilai ekspor sejak
ANTARA FOTO/Andry Denisah
Foto udara cerobong asap kawasan industri pengolahan nikel PT Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI) di Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara, Kamis (4/9/2025). Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Kendari mencatat nilai ekspor sejak januari-Juli 2025 di Provinsi Sulawesi Tenggara mencapai Rp32,7 triliun yang 99,92 persen disumbangkan oleh sektor pertambangan berupa feronikel.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia disebut menjadi tujuan utama investasi hijau Cina terutama di sektor nikel, prekursor, dan manufaktur panel surya. 

Co-Director Net Zero Industrial Policy Lab Johns Hopkins, Tim Sahay, mengatakan database China Low-Carbon Technology Foreign Direct Investment, Indonesia menempati posisi pertama dalam daftar negara tujuan investasi hijau. Hingga saat ini, perusahaan Cina telah mengucurkan investasi hampir US$250 miliar atau Rp4.169 triliun (Rp16.680/US$) ke proyek manufaktur hijau global. 

“Apakah megaproyek industri hijau ini membawa hasil pembangunan positif atau sekadar menjadikan negara tuan rumah sebagai ‘pulau manufaktur’, tergantung pada kebijakan domestik,” kata, dikutip pada Senin (29/9). 

Negara-negara ASEAN menjadi tuan rumah proyek hijau terbanyak, meskipun aliran modal ke Timur Tengah dan Afrika Utara melonjak lebih dari 20%. Negara-negara seperti Malaysia, Brasil, Hungaria, dan Indonesia tetap menarik aliran proyek baru dengan stabil dari Cina. 

Dengan cadangan nikel dan kobalt melimpah, Indonesia menjadi pusat produsen material baterai. Perusahaan teknologi seperti Huayou Cobalt, CNGR, dan GEM, telah membangun operasinya di Indonesia. Manufaktur material baterai, merupakan salah satu sektor terbesar dalam belanja teknologi hijau luar negeri Cina. Termasuk proyek 2025, nilai komitmen yang diumumkan melebihi US$62 miliar (Rp1.034 triliun).

Merespons hal ini, laporan Net Zero Industry Policy Lab mengingatkan negara-negara untuk memanfaatkan keunggulan sumber daya miliknya. Ini misalnya negara dengan mineral kritis dan energi terbarukan melimpah, atau pasar konsumen besar, dapat menempatkan diri pada rantai pasok yang berpusat di Cina. Akan tetapi, harus memastikan adanya transfer teknologi, perlindungan terhadap lingkungan, dan klausul penambahan nilai lokal. 

Sementara itu, Policy Strategist CERAH Naomi Devi Larasati, menggarisbawahi investasi Cina di Indonesia yang tak lepas dari masalah. Selama 2015-2023, Trend Asia mencatat adanya 93 kecelakaan kerja di industri nikel Indonesia. Ini termasuk 21 korban jiwa PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel. 

Kemudian, PT Indonesia Huabao Industrial Park dilaporkan menyebabkan pencemaran udara dari PLTU captive yang digunakan. Akibatnya, terjadi lonjakan kasus ISPA, dari 735 kasus pada 2021, menjadi lebih dari 1.100 kasus pada 2023. 

“Indonesia perlu memastikan bahwa investasi Cina benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di sekitar lokasi industri, bukan hanya keuntungan ekonomi bagi pemerintah pusat,” kata Naomi.

Dirinya menambahkan, manfaat nyata ini juga berupa alih teknologi dan keterampilan, kepatuhan perusahaan terhadap standard environmental, social, and governance, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...