Data Auriga 1990-2024: Hutan Alam dan Pertanian Rakyat Digempur Sawit

Image title
26 Januari 2026, 16:08
Foto udara kawasan Trans Sosial Suku Batin Sembilan di Muaro Singoan, Batang Hari, Jambi, Rabu (22/10/2025). Kawasan Trans Sosial yang dibangun pemerintah pada tahun 1999 untuk menyediakan ruang hidup bagi warga Suku Batin Sembilan di tengah-tengah hutan
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/rwa.
Foto udara kawasan Trans Sosial Suku Batin Sembilan di Muaro Singoan, Batang Hari, Jambi, Rabu (22/10/2025). Kawasan Trans Sosial yang dibangun pemerintah pada tahun 1999 untuk menyediakan ruang hidup bagi warga Suku Batin Sembilan di tengah-tengah hutan lebat Sumatera tersebut kini berubah menjadi kawasan perkebunan kelapa sawit milik perorangan dan beberapa perusahaan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perkebunan kelapa sawit meluas secara signifikan dalam tiga dekade terakhir. Sedangkan vegetasi alami berupa hutan alam menyusut, begitu juga tanaman perkebunan non-sawit dan pertanian rakyat. Ini berdasarkan data lembaga pegiat lingkungan Auriga Nusantara. 

Ketua Auriga Nusantara Timer Manurung memaparkan, tutupan vegetasi alami masih sekitar 151 juta hektare atau setara 80 persen wilayah Indonesia pada 1990. "Namun pada 2024, vegetasi alami berkurang hampir 29 juta hektare, dan yang paling banyak hilang adalah hutan alam,” ujar Timer dalam rapat bersama DPR Komisi IV, Senin (26/1).

Sepanjang 34 tahun terakhir, hutan alam yang hilang mencapai sekitar 23,5 juta hektare atau setara 80,2 persen dari total penurunan vegetasi alami.

Di sisi lain, tutupan antropogenik atau bentang alam yang dikuasai aktivitas manusia melonjak tajam. Tutupan antropogenik yang dimaksud mencakup sawah, sawit, kayu, dan pertanian lain; pemukiman; tambak, hingga lubang tambang.

Pada 1990, luas tutupan antropogenik tercatat sekitar 34 juta hektare. Namun pada 2024, tutupan antropogenik meningkat menjadi hampir 56 juta hektare. "Artinya, ada penambahan sekitar 24 juta hektare dalam kurun waktu tersebut,” kata Timer.

Tutupan antropogenik terbesar adalah kebun sawit dan kayu skala industri. Tutupan sawit meluas dari hanya 1,3 juta hektare pada 1990 menjadi 17,7 juta hektare pada 2024. "Hampir setara dua kali Pulau Jawa,” ucap Timer.

Kebun kayu yang didominasi tanaman seperti akasia dan eucalyptus juga mencatatkan ekspansi ekstrem menjadi 2,3 juta hektare pada 2024, dari tak menonjol di 1990.

“Pertanian lainnya seperti karet di Sumatera, serta lahan-lahan pertanian masyarakat di Kalimantan, banyak yang hilang dan berubah menjadi tutupan sawit, kebun kayu, dan tambang,” kata Timer

Penambahan luas pemukiman juga tidak semasif kebun sawit dan kayu, yaitu sekitar 1 juta hektare. “Jadi bukan ekspansi penduduk yang menjadi faktor utama (hilangnya tutupan vegetasi alami), melainkan kegiatan industri dan perusahaan-perusahaan,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...