Titik Panas Berhamburan di Asia Tenggara dan Ancaman Tahun Terpanas
Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap meningkat beberapa bulan ke depan seiring musim kering. Apalagi, ada risiko kemunculan El Nino yang berpotensi membuat tahun ini menjadi salah satu tahun terpanas. Citra satelit NASA menunjukkan titik panas (hotspot) berhamburan di wilayah Asia Tenggara.
Saat berita ini ditulis, Rabu (25/3), citra 24 jam terakhir menunjukkan, titik panas menutupi sebagian besar wilayah Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Di Indonesia, hotspot banyak terekam di Pulau Sumatra. Titik panas juga bermunculan di Malaysia hingga Filipina yang diapit Samudra Pasifik.
Satu dekade lalu, pada 2015, fenomena El Nino dan fase positif Indian Ocean Dipole menciptakan kondisi kering ekstrem yang memicu kebakaran besar di Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya, polusi asap berbahaya berlangsung lama dan menyelimuti sebagian besar Asia Tenggara.
Pemerintah Singapura telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kabut asap dalam beberapa minggu ke depan. Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu menjelaskan, berdasarkan kajian Lembaga Meteorologi Singapura, jumlah titik panas di sekitar negara-kota itu berpotensi meningkat beberapa bulan ke depan akibat pola angin dan kondisi yang lebih kering.
“Ini bisa berdampak pada situasi berasap yang memengaruhi Singapura,” ujar Grace di parlemen pada pertengahan Februari, seperti dikutip The Straits Times. Singapura terakhir kali mengalami bencana asap parah pada 2013 dan 2015.
Profesor Emeritus Fredolin Tangang dari Universiti Kebangsaan Malaysia menyebut peluang terjadinya El Nino pada semester kedua tahun ini mencapai 60-70 persen dan berpotensi berlanjut hingga 2027. Jika itu terjadi, 2026 dan 2027 bisa menjadi tahun terpanas bagi Malaysia, melampaui 2024.
“Ini juga bisa menyebabkan Indonesia mengalami kondisi yang lebih kering dan lebih panas,” kata dia, seperti dikutip AsiaOne.
Dalam beberapa tahun belakangan, berbagai wilayah Indonesia mencatatkan rekor suhu maksimum. Mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam 44 tahun belakangan, beberapa wilayah mencatat kenaikan suhu tertinggi antara 1,5 hingga 3 derajat celsius.
Kombinasi tren pemanasan dan potensi El Nino meningkatkan kerentanan terhadap karhutla. Aktivitas pembakaran untuk pembukaan lahan yang masih kerap terjadi di Indonesia berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan. Bila terlambat diantisipasi, Indonesia bisa kembali menjadi kontributor kabut asap di kawasan.

