Fenomena El Nino: Kering di Darat, Peluang “Ledakan Ikan” di Laut

Martha Ruth Thertina
25 Maret 2026, 14:58
Nelayan menimbang ikan tuna di TPI Higienis Sodoha, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (16/4/2025). Fenomena El Nino bisa mendatangkan musim subur di perairan Indonesia.
ANTARA FOTO/Andry Denisah/rwa.
Nelayan menimbang ikan tuna di TPI Higienis Sodoha, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (16/4/2025). Fenomena El Nino bisa mendatangkan musim subur di perairan Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di tengah ancaman El Nino dan musim kemarau yang berpotensi lebih panjang, perhatian biasanya tertuju pada daratan: sumber air dan lahan mengering hingga risiko kebakaran meningkat. Namun di laut, ceritanya bisa berbeda. Bagi para peneliti kelautan, awal kemarau bisa mendatangkan “musim subur” di perairan Indonesia. 

Peneliti Ahli Utama bidang oseanografi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Widodo Pranowo menjelaskan bahwa peralihan ke musim kemarau menjadi pemicu menguatnya angin timuran. Angin ini mendorong air permukaan laut menjauh dari pantai, lalu digantikan oleh massa air dari lapisan dalam yang lebih dingin dan kaya nutrien.

Fenomena ini disebut upwelling. “Massa air yang terangkat ini membawa 'pupuk alami' berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita,” kata Widodo, pertengahan Maret lalu. 

Fitoplankton adalah organisme mikroskopis yang mirip tumbuhan. Mengutip situs biodiversity warriors milik Yayasan Kehati, fitoplankton menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi untuk mengubah karbon dioksida dan nutrien lainnya menjadi bahan organik yang menjadi makanan bagi zooplankton. Sedangkan zooplankton adalah makanan bagi organisme yang lebih besar seperti ikan, burung air, dan beberapa hewan akuatik lainnya.

Temuan Penting dari Riset Lama

Beberapa tahun lalu, Widodo pernah melakukan penelitian mengenai fenomena upwelling di selatan Jawa yang dikenal secara internasional dengan sebutan RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling). Dengan menggunakan robot penyelam otomatis, Widodo merekam fenomena upwelling dan memetakan daerah penangkapan ikan.

Riset ini berhasil mengidentifikasi bahwa wilayah Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat penting bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk Tuna Sirip Biru Selatan (Southern Bluefin Tuna), Cakalang, dan Tuna Mata Besar.

Selain itu, riset mencatat bahwa sinergi antara angin timuran dan fenomena El Nino dapat memperkuat intensitas upwelling, yang secara langsung berdampak pada pelonjakan stok ikan pelagis.

Kapan Ikan Mulai Banyak?

Menurut Widodo, fitoplankton diduga akan mulai berkembang pada April-Mei 2026, mulai melonjak pada Juni 2026, dan puncaknya di Juli-Agustus 2026. Prediksi ini akan menarik keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru di Selat Bali.

"Jika El Nino 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya," kata Widodo.

Pemantauan terhadap fenomena ini dinilai bisa membantu dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ketika sumber pangan dari darat berisiko menurun karena kekeringan, sumber pangan dari laut berpotensi jadi pengganti. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...