Letusan di Papua Nugini Picu Sorotan, Seberapa Berbahaya Gunung Api Bawah Laut?

Ajeng Dwita Ayuningtyas
3 Juni 2026, 13:04
Erupsi Gunung Api Bawah Laut di Laut Bismarck, Papua Nugini, Mei 2026
NASA
Erupsi Gunung Api Bawah Laut di Laut Bismarck, Papua Nugini, Mei 2026
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Erupsi gunung api bawah laut di Laut Bismarck, Papua Nugini, pada Mei lalu menjadi sorotan. Video yang direkam nelayan memperlihatkan kepulan asap membumbung tinggi, air laut bergelombang, dan permukaannya berubah kehitaman akibat material vulkanik.

Letusannya memang tidak sebesar Krakatau 1883 atau Hunga Tonga Hunga Ha'apai pada 2022. Namun, peristiwa ini kembali mengingatkan pada risiko gunung api bawah laut, terutama bagi Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik dan didominasi wilayah perairan.

Berbagai penelitian menunjukkan jumlah gunung api di dasar laut jauh lebih banyak dibandingkan di daratan. Sekitar 75 persen aktivitas vulkanik bumi dilaporkan terjadi di bawah laut, meski sering luput dari perhatian karena tidak terlihat dari permukaan.

Di Indonesia, Badan Informasi Geospasial mencatat sedikitnya 11 gunung api bawah laut. Empat di antaranya tergolong aktif, yaitu Gunung Baruna Komba di Laut Flores, Gunung Maselihe dan Banua Wuhu di Laut Sulawesi, serta Gunung Hobal di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.

Peta Gunung Api
Peta Gunung Api (Volcanoes Database)

Merusak dan Menyuburkan

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan dampak erupsi gunung api bawah laut bergantung pada besar erupsi, kedalaman sumber erupsi, dan lokasinya.

Secara umum, letusan dapat memicu kematian biota laut akibat perubahan suhu air secara mendadak, paparan gas vulkanik, maupun material letusan yang menyelimuti dasar laut. Terumbu karang dan habitat laut lainnya juga dapat rusak akibat tertutup endapan vulkanik.

Material vulkanik dan cairan panas yang dilepaskan ke laut juga dapat mengubah kualitas perairan. "Selain membuat air mengeruh, material letusan dapat meningkatkan keasaman air laut," kata dia kepada Katadata, beberapa waktu lalu.

Dalam kondisi tertentu, terutama jika letusan bersifat eksplosif dan memicu longsoran bawah laut berskala besar, erupsi bahkan dapat memicu tsunami.

Meski demikian, dampaknya tidak seluruhnya negatif. “Material vulkanik dapat membawa unsur hara yang pada periode tertentu dapat meningkatkan produksi perairan,” ujarnya. 

Peta Gunung Api Indonesia
Peta Gunung Api Indonesia (arcgis.com)

 

Erupsi Fenomenal Gunung Hunga Tonga di 2022

Dampak letusan gunung api bawah laut sangat dipengaruhi oleh kedalamannya. Semakin dangkal lokasi letusan, semakin besar peluang terjadinya ledakan yang kuat dan terlihat hingga ke permukaan laut.

Menurut Volcanoes Database, kedalaman sekitar 200-300 meter menjadi batas penting yang membedakan karakter letusan bawah laut. Pada kedalaman yang lebih dangkal dari itu, tekanan air laut tidak lagi cukup kuat untuk menahan gas di dalam magma. Akibatnya, magma dapat meledak hebat saat bertemu air laut dan menghasilkan semburan abu vulkanik yang besar.

Sebaliknya, pada kedalaman yang lebih dalam, tekanan air laut yang tinggi menekan gas di dalam magma sehingga letusan cenderung lebih tenang. Magma biasanya keluar perlahan sebagai aliran lava di dasar laut, tanpa menghasilkan kolom abu raksasa seperti gunung api di daratan.

Salah satu contoh paling terkenal adalah letusan gunung api bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha'apai di Tonga pada Januari 2022. Letusan ini terjadi sangat dekat dengan permukaan laut sehingga menghasilkan ledakan luar biasa besar.

Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment, letusan tersebut menyemburkan abu vulkanik dan uap air hingga mencapai ketinggian sekitar 57 kilometer ke atmosfer. Ketinggian ini menjadikannya salah satu letusan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan modern.

Erupsi Gunung Hunga Tonga 2022
Erupsi Gunung Hunga Tonga 2022 (NASA)

 

Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar gunung api. Abu vulkanik yang terlontar ke laut mengendap hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari lokasi letusan. Penelitian menemukan lapisan abu setebal sekitar 80 sentimeter hingga 1,5 meter menutupi sejumlah kawasan dasar laut di Cekungan Lau, yang berjarak sekitar 83-222 kilometer dari pusat erupsi.

Kawasan yang tertutup abu tersebut merupakan habitat berbagai hewan laut dalam, termasuk kerang dan siput yang hidup di sekitar sumber air panas alami di dasar laut. Banyak organisme ini ditemukan mati setelah habitatnya tertimbun material vulkanik.

Selain menimbun dasar laut, abu vulkanik juga membawa berbagai unsur kimia. Sebagian unsur dapat bersifat racun bila konsentrasinya terlalu tinggi, terutama bagi plankton dan organisme kecil lainnya. Namun, ada pula unsur seperti besi dan fosfor yang dapat berfungsi sebagai pupuk alami bagi fitoplankton, yaitu organisme mikroskopis yang menjadi dasar rantai makanan laut.

Karena itu, dampak abu vulkanik terhadap ekosistem laut tidak selalu sama. Dalam jangka pendek, letusan dapat merusak habitat dan mematikan organisme. Namun dalam kondisi tertentu, unsur hara yang dibawa abu juga dapat meningkatkan produktivitas perairan.

Sementara itu, letusan yang terjadi jauh lebih dalam umumnya tidak menghasilkan ledakan besar. Meski demikian, dampaknya tetap signifikan. Aliran lava yang keluar di dasar laut dapat menutupi area yang luas dan memusnahkan berbagai organisme yang hidup di atasnya. Seiring waktu, area tersebut biasanya akan dihuni kembali oleh kehidupan laut dan membentuk ekosistem baru.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...