Jutaan Hektare Gambut Rusak, RI Kekurangan 493 Ribu Sekat Kanal Cegah Kebakaran
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat baru ada 45.430 unit sekat kanal di tujuh provinsi rawan kebakaran gambut. Jumlah itu masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 538.568 unit, padahal jutaan hektare lahan gambut di Indonesia membutuhkan upaya pemulihan.
Sekat kanal atau canal blocking merupakan bendung kecil yang dipasang di saluran drainase di lahan gambut. Infrastruktur ini berfungsi memperlambat aliran air keluar dari kawasan gambut sehingga muka air tanah tetap terjaga. Dengan gambut yang tetap basah, risiko lahan mengering dan terbakar dapat ditekan.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan pembangunan sekat kanal menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat saat musim kemarau maupun ketika fenomena El Nino memicu kondisi lebih kering.
"Kami perlu membangun sekat kanal supaya kebakaran bisa direduksi mendekati nol," kata Jumhur saat mengunjungi pembangunan sekat kanal di Desa Mendol, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (18/6).
Namun, menurut dia, pembangunan sekat kanal masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain keterbatasan anggaran, edukasi kepada masyarakat mengenai fungsi sekat kanal juga masih diperlukan. Pemerintah juga harus mempertimbangkan kompensasi bagi warga apabila pembangunan dilakukan di lahan milik masyarakat.
"Kami mengundang siapa pun untuk ikut mempercepat dan memperbanyak pembangunan sekat kanal di Indonesia," ujar Jumhur.
Sekat kanal di Desa Mendol dibangun melalui kolaborasi KLH, Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, kepolisian, pelaku industri, dan masyarakat.
Pembangunan serupa juga dilakukan di Dusun I, Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Salah satu pihak yang terlibat adalah Asia Pulp & Paper (APP) Group melalui anak usahanya PT Arara Abadi, yang memiliki konsesi dengan sebagian areanya berupa lahan gambut.
Direktur APP Group Suhendra Wiriadinata mengatakan perusahaan berkomitmen mendukung upaya pencegahan kebakaran lahan melalui pembangunan sekat kanal, penyediaan peralatan, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah daerah.
"Kami berkomitmen, apa yang menjadi kebutuhan supaya kita bisa berkolaborasi dengan baik, baik itu sekat kanal atau alat-alat, juga kebutuhan masyarakat sekitar, kami akan perintahkan district manager untuk segera berdiskusi bersama," ujar Suhendra.
Sekat kanal merupakan salah satu infrastruktur penting dalam pemulihan gambut. Data KLH menunjukkan lebih dari 3 juta hektare lahan gambut di Indonesia telah mengalami kerusakan.
Pemasangan sekat kanal disesuaikan dengan kondisi topografi lahan, umumnya pada titik-titik tertentu di sepanjang kanal untuk memperlambat aliran air menuju sungai sehingga kelembapan gambut tetap terjaga. Dalam kondisi tertentu, air yang telanjur keluar dari kawasan gambut bahkan dipompa kembali untuk membantu membasahi lahan yang mulai mengering.
Jumhur Gandeng Masyarakat Peduli Api
Selain membangun infrastruktur hidrologi, Menteri Jumhur mengatakan ingin memperkuat peran Masyarakat Peduli Api (MPA) -- kelompok masyarakat di tingkat desa yang membantu mencegah, memantau, dan menangani kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya.
"Mulai sekarang, Masyarakat Peduli Api adalah partner strategis," kata dia. KLH melalui Deputi Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan akan melibatkan MPA dalam penyusunan konsep serta strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran lahan.
Meski demikian, para anggota MPA mengaku masih menghadapi berbagai keterbatasan di lapangan. Kasogi, anggota MPA dari Pulau Mendol, mengatakan kelompoknya masih mengandalkan peralatan sederhana untuk memadamkan api dan belum mendapat dukungan sarana maupun anggaran yang memadai.
"Ketika MPA ini mendapat sarana dan prasarana serta anggaran yang cukup, saya rasa masalah kebakaran lahan tidak menjadi masalah yang besar," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Marlizar, anggota MPA dari Teluk Meranti. Kelompok yang beranggotakan 15 orang itu masih kekurangan peralatan untuk mendukung penanganan kebakaran lahan.
Di sisi lain, banyak sekat kanal berbahan kayu di wilayahnya yang sudah lapuk sehingga tidak lagi berfungsi optimal menjaga kelembapan gambut. Karena itu, Marlizar berharap pemerintah memperbaiki sekaligus menambah sekat kanal agar perlindungan kawasan gambut semakin efektif.
Marlizar juga berharap pemerintah memberikan dukungan insentif yang lebih layak bagi anggota MPA. Menurut dia, kelompoknya kerap menjadi pihak pertama yang turun ke lapangan untuk memetakan titik api sehingga memudahkan tim pemadam menuju lokasi kebakaran.
"Kami petakan dulu, jadi kawan-kawan pemadam itu sudah menuju titik-titik yang kami petakan," ujarnya.
