Menteri Jumhur Sambangi Perkebunan Sukanto Tanoto, Cek Sistem Mitigasi Karhutla

Ajeng Dwita Ayuningtyas
19 Juni 2026, 20:20
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat bersama Bupati Pelalawan, memantau sekat kanal di area konsesi jajaran PT Riau Andalan Pulp, di Pangkalan Kerinci, Riau, Jumat (19/6). Perusahaan ini bagian dari APRIL Group milik Sukanto Tanoto.
Ajeng Dwita Ayuningtyas I Katadata
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat bersama Bupati Pelalawan, memantau sekat kanal di area konsesi jajaran PT Riau Andalan Pulp, di Pangkalan Kerinci, Riau, Jumat (19/6). Perusahaan ini bagian dari APRIL Group milik Sukanto Tanoto.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyambangi area konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper, bagian dari Asia Pacific Resources International Holdings Ltd alias APRIL Group milik konglomerat Sukanto Tanoto.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari pemantauan kesiapan pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat dalam menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau.

"Hari ini kami melihat sistem water sharing, memastikan lahan gambut tetap terairi tidak hanya di kawasan konsesi, tetapi juga hingga ke wilayah masyarakat," kata Jumhur saat mengunjungi kawasan konsesi di Pangkalan Kerinci, Riau, Jumat (19/6).

Pengelolaan air gambut dilakukan melalui sistem water zone yang dilengkapi sekat kanal untuk menjaga tinggi muka air gambut tetap berada pada level yang ditetapkan. Setiap water zone memiliki papan pemantauan yang menunjukkan tinggi muka air secara berkala.

Bila ketinggian air turun di bawah ambang batas, sekat kanal akan ditutup untuk menahan air agar tetap menggenangi lahan gambut. Langkah ini bertujuan menjaga kelembapan gambut sehingga tidak mudah mengering dan terbakar.

Sebaliknya, ketika ketinggian air mencapai sekitar 20-30 sentimeter di atas batas yang ditetapkan, sekat kanal akan dibuka agar air dapat mengalir ke water zone dengan elevasi yang lebih rendah.

Menjelang musim kering atau saat menghadapi fenomena El Nino, standar tinggi muka air tersebut ditingkatkan. Misalnya, target tinggi muka air yang semula 4,6 meter di atas permukaan laut (mdpl) dinaikkan menjadi 4,8 mdpl sehingga potensi penurunan muka air dapat diantisipasi lebih dini dan risiko kebakaran dapat ditekan.

Jumhur mengatakan karakteristik lahan gambut di kawasan tropis seperti Indonesia berbeda dengan gambut di wilayah beriklim dingin di belahan bumi utara. Karena itu, metode pengelolaannya tidak bisa disamakan.

"Kita harus kembangkan sendiri, merawat dan mengelola gambut dengan cara masyarakat tropis," ujarnya.

Selain meninjau sistem pengelolaan air gambut, Jumhur mengunjungi fasilitas pemantauan fluks karbon dioksida dan metana serta stasiun pemantauan meteorologi yang mengukur suhu dan kelembapan udara. Fasilitas tersebut terdiri atas empat menara Greenhouse Gas Emission Monitoring yang berada di area operasional maupun lahan restorasi perusahaan.

Menurut Jumhur, sistem pemantauan emisi secara real time tersebut dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain karena memungkinkan emisi dipantau secara berkala sekaligus mempercepat langkah mitigasi apabila terjadi peningkatan.

"Dari waktu ke waktu kita bisa memonitor berapa banyak emisi yang diproduksi dan langkah mitigasi apa yang segera dilakukan," ucapnya. 

Dia berharap perusahaan-perusahaan lain juga memiliki sistem pemantauan emisi serupa yang terhubung dengan Kementerian Lingkungan Hidup sehingga data yang dihasilkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengendalian emisi dan pengelolaan gambut di masa mendatang.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...